Catatan Opini Humaniora: Dialog Imajinatif Tentang Tujuan Hidup, Pilihan, Takdir, dan Rahasia Perjalanan Manusia
SITUBONDO – Percakapan di sebuah pelosok Tanjung Sari Timur, ketika malam mulai menyelimuti desa dan suara kehidupan perlahan mereda, seorang anak muda bernama Randa Kholilurrahim duduk dalam perenungan panjang.
Bukan sekadar memikirkan bagaimana mengejar dunia, bukan pula hanya tentang keberhasilan dan pencapaian. Namun, ia sedang berhadapan dengan pertanyaan paling tua dalam perjalanan manusia:
“Untuk apa aku hadir di muka bumi ini? Apa tujuan hidup yang sebenarnya?”
Pertanyaan itu muncul bukan karena kehilangan arah, melainkan karena manusia memiliki kemampuan untuk berpikir lebih jauh tentang keberadaannya.
Dalam sebuah refleksi imajinatif, Randa seolah berdialog dengan empat sosok yang memiliki arti penting dalam perjalanan hidupnya: Azis Chemoth, Ida Royani, Romi Anasrullah, dan Hayati.
Mereka bukan tokoh pewayangan, melainkan simbol suara kebijaksanaan, kasih sayang, pengalaman, dan nasihat yang sering hadir melalui keluarga.
Randa Bertanya Kepada Azis Chemoth: Mengapa Manusia Dilahirkan?
Randa memulai percakapannya.
Randa:
“Azis Chemoth, aku ingin memahami satu hal. Mengapa manusia dilahirkan? Untuk apa sebenarnya manusia berjalan di muka bumi ini?”
Azis Chemoth menjawab dengan tenang:
“Randa, manusia tidak hanya hadir untuk mencari harta, jabatan, atau pengakuan dari orang lain. Manusia hadir untuk mengenal dirinya, memahami kehidupan, dan memberikan manfaat selama ia diberi kesempatan bernapas.”
“Nilai seseorang bukan hanya dilihat dari apa yang ia miliki, tetapi dari kebaikan apa yang ia berikan kepada lingkungan sekitarnya.”
“Sebab kehidupan bukan perlombaan siapa yang paling tinggi berdiri, melainkan perjalanan siapa yang paling mampu menjaga hati dan memberi arti.”
Romi Anasrullah Mengingatkan Tentang Pilihan dan Kesalahan
Randa kemudian menoleh kepada kakaknya, Romi Anasrullah.
Randa:
“Kak Romi, apakah manusia benar-benar bebas menentukan pilihan hidupnya?”
Romi tersenyum dan menjawab:
“Manusia memang diberikan akal untuk memilih jalan hidupnya. Namun, manusia juga harus memahami bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan.”
“Kita bisa menentukan usaha, tetapi tidak selalu bisa menentukan hasil. Kita bisa membuat rencana, tetapi kehidupan memiliki jalannya sendiri.”
“Jangan takut melakukan kesalahan, karena kesalahan bukan akhir perjalanan. Yang paling penting adalah keberanian untuk belajar, memperbaiki diri, dan kembali berjalan.”
Romi kemudian menambahkan:
“Manusia yang dewasa bukan manusia yang tidak pernah jatuh, tetapi manusia yang selalu menemukan cara untuk bangkit.”
Hayati Mengajarkan Tentang Waktu dan Kematian
Dalam keheningan, Randa kemudian bertanya kepada neneknya, Hayati.
Randa:
“Nenek, jika manusia bebas menentukan pilihan, mengapa akhirnya ada kematian yang mengakhiri kehidupan?”
Hayati menjawab dengan penuh kelembutan:
“Randa, justru karena hidup memiliki batas, manusia belajar menghargai waktu.”

“Jika manusia hidup selamanya, mungkin manusia tidak akan memahami arti pertemuan, kasih sayang, perjuangan, dan kesempatan.”
“Kematian bukan sesuatu yang harus membuat manusia berhenti menjalani kehidupan. Sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik.”
“Jangan hanya menghitung berapa lama seseorang hidup, tetapi lihatlah bagaimana ia menggunakan waktu yang diberikan.”
Ida Royani Berbicara Tentang Ketidakpastian Kehidupan
Kemudian Randa bertanya kepada ibunya, Ida Royani.
Randa:
“Ibu, apakah manusia bisa hidup tanpa ketidakpastian? Mengapa masa depan selalu menjadi sesuatu yang tidak pasti?”
Ida Royani tersenyum.
“Randa, ketidakpastian adalah bagian dari kehidupan manusia.”
“Petani menanam benih dengan harapan akan panen. Nelayan pergi ke laut dengan keyakinan akan mendapatkan hasil. Begitu pula manusia menjalani kehidupan dengan usaha, doa, dan harapan.”
“Jika semua sudah diketahui sejak awal, manusia tidak akan belajar tentang kesabaran, perjuangan, dan rasa syukur.”
“Jangan takut dengan sesuatu yang belum terjadi. Persiapkan diri, lakukan yang terbaik, lalu serahkan hasilnya kepada Tuhan.”
Azis Chemoth Menutup Percakapan: Jadilah Manusia yang Bermakna
Sebelum malam semakin larut, Azis Chemoth kembali menyampaikan pesan kepada Randa.
“Jangan habiskan seluruh hidup hanya untuk mencari semua jawaban tentang rahasia kehidupan. Sebagian jawaban akan ditemukan melalui perjalanan.”
“Gunakan pikiran untuk memahami, gunakan hati untuk mencintai, dan gunakan tangan untuk membantu.”
“Sebab manusia mungkin tidak dapat memilih semua kejadian yang datang kepadanya, tetapi manusia selalu memiliki pilihan tentang bagaimana ia menyikapi setiap keadaan.”
Dari sebuah pelosok Tanjung Sari Timur, pertanyaan seorang anak muda bernama Randa Kholilurrahim menjadi cermin bagi banyak manusia.
Bahwa kehidupan bukan hanya tentang mengejar keberhasilan dunia, tetapi juga tentang memahami siapa diri kita, mengapa kita hadir, dan apa manfaat yang dapat kita tinggalkan.
Pada akhirnya, manusia mungkin tidak memiliki seluruh jawaban tentang kehidupan. Namun, manusia selalu memiliki kesempatan untuk menjalani perjalanan dengan kesadaran, kerendahan hati, dan kebaikan.
Karena manusia yang bijaksana bukanlah manusia yang mengetahui semua rahasia kehidupan.
Melainkan manusia yang terus belajar memahami kehidupan dengan hati yang terbuka.












