Berita  

Normalisasi Kali Basiyan Menuai Harapan dan Tanda Tanya, Dam Rusak Jadi Ancaman Banjir Warga Besuki

Redaksi
Normalisasi
Kali Basiyan dinormalisasi, harapan warga tumbuh. Namun dam rusak masih menjadi tanda tanya besar demi keselamatan warga Besuki.

SITUBONDO – Di tengah upaya pemerintah memperbaiki sistem aliran air di Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, muncul sebuah pertanyaan besar dari masyarakat: apakah normalisasi sungai cukup untuk menghentikan ancaman banjir apabila bangunan pengendali air yang berada di titik kritis masih mengalami kerusakan?

Pertanyaan tersebut kini menjadi perhatian warga Jalan Krakatau Barat, Desa Besuki, Kecamatan Besuki, setelah program normalisasi Kali Basiyan mulai menunjukkan perubahan fisik pada alur sungai. Sungai yang sebelumnya mengalami pendangkalan kini terlihat lebih dalam, lebih bersih, dan memiliki ruang aliran yang lebih luas.

Bagi masyarakat, pekerjaan tersebut merupakan langkah positif yang patut diapresiasi. Namun, harapan itu belum sepenuhnya menghadirkan rasa aman. Sebab, dua bangunan dam yang selama ini memiliki fungsi penting dalam mengendalikan arus air disebut masih belum mendapatkan perbaikan.

Bagi warga yang pernah merasakan banjir besar, persoalan tersebut bukan sekadar masalah infrastruktur. Ini menyangkut keselamatan rumah, lingkungan pendidikan, serta rasa aman masyarakat yang tinggal di sekitar aliran Kali Basiyan.

Sungai Dinormalisasi, Titik Kritis Masih Menunggu Penanganan

Program normalisasi Kali Basiyan diketahui mencakup jalur sungai mulai dari kawasan sebelah barat Puskesmas Besuki hingga menuju Kali Lubawang (Campoan).

Pekerjaan tersebut bertujuan memperbaiki kapasitas aliran sungai agar mampu menampung dan mengalirkan debit air dengan lebih baik. Namun, berdasarkan keterangan warga dan pihak pelaksana lapangan, pekerjaan yang dilakukan saat ini belum mencakup rehabilitasi terhadap bangunan dam yang mengalami kerusakan.

“Pekerjaan kami hanya normalisasi Kali Basiyan. Tidak ada pekerjaan untuk dam atau bangunan pengatur air,” ujar pihak pelaksana lapangan.

Keterangan tersebut kemudian memunculkan kekhawatiran masyarakat. Sebab, bagi warga, persoalan banjir tidak hanya disebabkan oleh kondisi alur sungai, tetapi juga berkaitan dengan fungsi bangunan pengendali air yang berada di sepanjang sungai.

Baca Juga:
Kapokdar Kamtibmas Situbondo Tinjau Sungai Nyamplong Gebangan yang Tercemar Sampah

Dua Dam Rusak, Warga Masih Dibayangi Pengalaman Banjir

Kekhawatiran masyarakat tidak muncul tanpa alasan. Banjir besar yang terjadi sebelumnya meninggalkan catatan serius bagi warga sekitar Kali Basiyan.

Dua unit dam dilaporkan mengalami kerusakan cukup berat. Titik pertama berada di sebelah barat bangunan PLN lama, sedangkan titik kedua berada di sekitar gedung Pondok Pesantren Burhanul Abror.

Saat kondisi normal, keberadaan dam memiliki peran sebagai bagian dari sistem pengaturan aliran air. Namun ketika terjadi peningkatan debit sungai, kerusakan pada bangunan tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi arah dan tekanan arus air.

Warga masih mengingat dampak banjir sebelumnya. Air sempat masuk ke rumah-rumah warga hingga mencapai dada orang dewasa. Sejumlah perabot rumah tangga rusak, aktivitas masyarakat terganggu, dan lingkungan pondok pesantren turut terdampak.

Pengalaman tersebut menjadi alasan mengapa warga meminta agar penanganan Kali Basiyan dilakukan secara menyeluruh.

Normalisasi
Normalisasi Kali Basiyan mulai memberi harapan bagi warga Besuki. Namun dua dam rusak yang belum tersentuh perbaikan masih menjadi bayang-bayang ancaman banjir.

Jangan Sampai Normalisasi Kehilangan Makna

Tokoh masyarakat Besuki, Sutomo, S.H., atau yang akrab disapa Gus Toms, mengapresiasi langkah normalisasi Kali Basiyan. Namun ia menilai persoalan banjir harus dilihat sebagai satu kesatuan sistem.

Menurutnya, memperbesar kapasitas sungai melalui normalisasi merupakan langkah penting, tetapi harus diikuti dengan memastikan seluruh infrastruktur pendukung berada dalam kondisi layak.

“Normalisasi sungai harus dibarengi dengan perbaikan bangunan pengendali air. Sebab sungai dan dam memiliki fungsi yang saling berkaitan,” ujarnya.

Dalam perspektif pengelolaan sumber daya air, sungai bukan hanya persoalan memperlebar atau memperdalam alur. Ada sistem yang saling terhubung antara kapasitas sungai, pengendalian debit, serta perlindungan kawasan permukiman.

Baca Juga:
Pesan Keras Eko Siti Jenar: “Berani Katakan Kebenaran, Siap Dibenci”

Apabila salah satu bagian sistem mengalami gangguan, maka risiko banjir masih tetap terbuka, terutama ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Warga Menunggu Kepastian Pemerintah

Masyarakat Besuki berharap pemerintah dan instansi teknis segera melakukan evaluasi terhadap kondisi dua dam tersebut.

Warga meminta agar ada kajian teknis mengenai tingkat kerusakan, kebutuhan rehabilitasi, serta langkah lanjutan yang diperlukan agar manfaat normalisasi Kali Basiyan benar-benar dirasakan masyarakat.

Sebab bagi warga, pembangunan infrastruktur bukan hanya tentang pekerjaan fisik yang terlihat, tetapi juga tentang jaminan keselamatan ketika bencana datang.

Normalisasi Kali Basiyan kini menjadi simbol harapan baru bagi masyarakat Besuki. Sungai yang lebih tertata memberikan optimisme bahwa ancaman banjir dapat dikurangi.

Namun di sisi lain, keberadaan dua dam rusak masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Masyarakat kini menunggu jawaban: apakah normalisasi Kali Basiyan akan menjadi solusi permanen, atau hanya menjadi langkah awal yang masih membutuhkan penyempurnaan?

Bagi warga Krakatau Barat Besuki, jawaban tersebut bukan sekadar wacana pembangunan. Ini adalah persoalan keamanan dan masa depan mereka saat menghadapi kemungkinan banjir berikutnya.