Opini  

Ketika Kekuasaan Terperangkap dalam Pujian: Penjilat, Ilusi Kekuasaan, dan Hilangnya Suara Kebenaran

Redaksi
Tepuk tangan bisa mengangkat seseorang ke puncak, tetapi hanya kritik dan kejujuran yang mampu menjaganya tetap berdiri."

Oleh: Mr. Josh

Kekuasaan tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Sering kali, kehancuran terbesar justru dimulai dari dalam lingkaran terdekatnya sendiri. Bukan karena kurangnya pendukung, bukan karena lemahnya kekuatan politik, tetapi karena seorang pemimpin perlahan kehilangan kemampuan untuk membedakan antara suara ketulusan dan suara kepentingan.

Ada bahaya yang tidak terlihat ketika sebuah kekuasaan terlalu lama hidup dalam suasana penuh pujian. Tepuk tangan yang terus bergema dapat berubah menjadi tembok yang menghalangi seorang pemimpin melihat kenyataan. Kata-kata manis yang terus diberikan dapat menjadi kabut yang menutupi persoalan sebenarnya di tengah masyarakat.

Di situlah budaya penjilat menjadi ancaman serius bagi perjalanan sebuah kekuasaan.

Penjilat bukan sekadar orang yang gemar memuji. Lebih jauh dari itu, mereka adalah simbol dari sebuah budaya politik yang menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan publik. Mereka hadir dengan wajah loyalitas, tetapi sering kali membawa agenda tersembunyi. Mereka mendekat bukan karena nilai perjuangan, melainkan karena peluang yang muncul dari sebuah jabatan.

Mereka mampu membuat kesalahan terlihat seperti keberhasilan. Mereka dapat mengubah kritik menjadi seolah-olah ancaman. Mereka menciptakan suasana di mana pemimpin hanya mendengar apa yang ingin didengar, bukan apa yang harus didengar.

Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa seorang pemimpin yang kehilangan ruang untuk menerima kritik sedang berjalan menuju bahaya. Kekuasaan yang tidak memiliki koreksi akan mudah terjebak dalam kesombongan. Dan kekuasaan yang dikelilingi oleh orang-orang yang hanya berkata benar tanpa keberanian menguji kebenaran, perlahan akan kehilangan arah.

“Kekuasaan yang hanya dikelilingi pujian akan kehilangan arah. Pemimpin besar bukan yang selalu dipuji, tetapi yang berani mendengar kebenaran.”

Seorang pemimpin yang besar bukanlah mereka yang selalu dianggap benar, melainkan mereka yang memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Sebab jabatan tidak menjadikan seseorang sempurna. Kekuasaan hanya memperbesar tanggung jawab dan memperluas dampak dari setiap keputusan yang dibuat.

Baca Juga:
PPP Gelar Bimbingan Teknis Nasional di Bali, Perkuat Peran DPRD Mengawal Persatuan dan Pembangunan Bangsa

Dalam kehidupan politik, kritik bukanlah bentuk pengkhianatan. Kritik adalah tanda bahwa masih ada kepedulian terhadap arah perjalanan bangsa. Orang yang berani mengingatkan terkadang jauh lebih berharga daripada seribu orang yang hanya memberikan pujian.

Namun persoalannya, tidak semua pemimpin nyaman mendengar suara yang berbeda. Sebagian lebih memilih lingkungan yang penuh persetujuan karena terasa lebih menyenangkan. Mereka lupa bahwa kenyamanan dalam kekuasaan sering menjadi awal dari hilangnya kepekaan terhadap realitas.

Budaya penjilat juga menciptakan jarak antara penguasa dan rakyat. Ketika orang-orang di sekitar pemimpin hanya menyampaikan kabar yang baik, penderitaan masyarakat bisa terlihat jauh dan tidak nyata. Keluhan rakyat bisa dianggap sebagai gangguan, sementara keberhasilan kecil bisa dibesar-besarkan menjadi pencapaian luar biasa.

Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang hanya hebat di atas panggung pencitraan. Rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu turun melihat keadaan, mendengar suara yang tidak terdengar, dan berani mengambil keputusan berdasarkan kepentingan bersama.

Karena kekuasaan sejatinya bukanlah tempat untuk mencari penghormatan, melainkan ruang pengabdian. Jabatan bukanlah hadiah untuk menikmati fasilitas, tetapi amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban.

Di balik gemerlap kekuasaan, selalu ada ujian terbesar: membedakan suara ketulusan dengan bisikan kepentingan.”

Seorang pemimpin yang bijaksana harus memahami bahwa tidak semua orang yang berdiri dekat adalah sahabat, dan tidak semua orang yang sering memuji adalah orang yang setia. Terkadang, sahabat terbaik dalam perjalanan kekuasaan adalah mereka yang berani berkata pahit demi mencegah kesalahan yang lebih besar.

Sebab pujian dapat dibeli, pencitraan dapat dibangun, dan kesetiaan palsu dapat dimainkan. Tetapi kejujuran tidak bisa dibuat-buat, karena ia membutuhkan keberanian untuk berdiri melawan arus.

Baca Juga:
Fenomena Sok Suci: Benci Wartawan & LSM, Tapi Diam-Diam Butuh

Pada akhirnya, sejarah tidak mencatat berapa banyak orang yang pernah membungkuk di hadapan seorang penguasa. Sejarah mencatat apakah kekuasaan tersebut mampu menghadirkan keadilan, membawa perubahan, dan meninggalkan manfaat bagi masyarakat.

Karena musuh terbesar sebuah kekuasaan terkadang bukan mereka yang berada di luar lingkaran, melainkan mereka yang berada paling dekat tetapi memilih membiarkan seorang pemimpin berjalan dalam ilusi.

Kekuasaan yang kuat bukanlah kekuasaan yang bebas dari kritik. Kekuasaan yang kuat adalah kekuasaan yang berani mendengar kebenaran.