SITUBONDO -Di bawah naungan langit Jumat yang penuh keberkahan, sebuah ikatan suci terukir di Tanjung Sari Timur, Kecamatan Mangaran, Kabupaten Situbondo. Bukan sekadar pertemuan dua insan, tetapi sebuah perjalanan panjang yang dimulai dengan janji untuk saling menjaga, mencintai, dan menguatkan dalam kehidupan rumah tangga.
Pada Jumat, 14 Agustus 2027 pukul 08.00 WIB, Tanjung Kamal menjadi saksi bersatunya Nur Muyassaroh, dari Tanjung Sari Timur, Mangaran, Situbondo, dengan Abdul Kodir dari Batu Ampar Jeding, Kabupaten Bondowoso.
Suasana penuh haru dan kebahagiaan menyelimuti prosesi pernikahan tersebut. Senyum keluarga, doa para tamu, serta suasana kekeluargaan menjadi gambaran bahwa pernikahan bukan hanya menyatukan dua nama, melainkan juga mempertemukan dua keluarga besar dalam satu ikatan silaturahmi.
Bapak Misyanto dengan nama asli Suramli dan Ibu Misyanto yang lebih terkenal dengan sebutan Tumhatima sebagai tuan rumah sekaligus penerima tamu. Dengan keramahan khas masyarakat desa, mereka menyambut setiap undangan yang datang dengan penuh penghormatan.
Di tengah suasana kebersamaan tersebut, hadir pula tokoh masyarakat yang memberikan warna tersendiri dalam acara. Pak RT Ismail terlihat menjalankan peran sosialnya dengan membagikan rokok kepada para undangan sebagai bagian dari tradisi penghormatan dalam sebuah hajatan masyarakat.

Kepala Dusun Rahwini dan Mohammad Ramli, tokoh masyarakat setempat, turut duduk di teras utama mendampingi Kiai Ramok Segoro yang memberikan wejangan kehidupan kepada kedua mempelai dan para hadirin.
Dalam nasihatnya, Kiai Ramok Segoro menyampaikan bahwa pernikahan bukan hanya tentang pesta sehari, melainkan awal dari perjalanan panjang yang membutuhkan tanggung jawab, kesabaran, serta keikhlasan.
Menurutnya, seorang suami setelah menikah memiliki tanggung jawab besar sebagai pemimpin keluarga, terutama dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Kalau dulu yang memberikan belanja adalah orang tua, maka setelah menikah suamilah yang harus siap memberikan belanja dan bertanggung jawab kepada keluarganya,” pesan Kiai Ramok.
Ia menegaskan bahwa ukuran kebahagiaan rumah tangga tidak bisa hanya dilihat dari materi, kecantikan, ketampanan, maupun banyaknya keturunan.

“Banyak orang mengatakan bahagia ketika memiliki anak, tetapi kenyataan dalam kehidupan menunjukkan ada pula rumah tangga yang berpisah setelah memiliki banyak anak. Artinya, anak bukan satu-satunya ukuran kebahagiaan,” ungkapnya.
Menurut Kiai Ramok, kebahagiaan sejati hadir ketika pasangan mampu menciptakan ketenangan dalam rumah.
“Kaya belum tentu bahagia. Cantik atau tampan juga bukan ukuran kebahagiaan. Kebahagiaan adalah ketika suami istri bisa saling mengerti, menghargai, dan menghormati,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar pasangan tidak menjadikan rumah tangga sebagai tempat saling menyalahkan.
“Kalau suami selalu memarahi istri dan istri selalu memarahi suami, lalu di mana letak kebahagiaan itu?” tuturnya.

Dalam pandangannya, seorang pemimpin keluarga harus mampu memberikan contoh melalui sikap dan akhlak. Jika suami berusaha menjadi baik, maka istri juga harus menjaga keharmonisan dengan perilaku yang baik.
Selain hubungan emosional, Kiai Ramok juga menyoroti pentingnya mengelola ekonomi keluarga secara bijaksana.
Ia berpesan agar pasangan suami istri tidak terjebak dalam gaya hidup karena ingin mengikuti penampilan orang lain.
“Hidup boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi harus sesuai kemampuan. Jangan hanya karena gengsi kepada tetangga, akhirnya mengejar sesuatu di luar kemampuan hingga hutang menumpuk,” katanya.
Dalam perjalanan rumah tangga, menurutnya, manusia akan selalu menghadapi ujian. Karena itu, hati harus selalu dekat dengan Allah SWT dan tidak dikuasai ego maupun hawa nafsu.

“Alirkan hati kepada Sang Pencipta dan bersabarlah. Dengan sabar, seseorang mampu melewati berbagai persoalan kehidupan,” ungkapnya.
Ia memberikan gambaran sederhana tentang makna kesabaran.
“Payung tidak bisa menghilangkan hujan, tetapi dengan memakai payung seseorang bisa melewati hujan. Begitu juga sabar, bukan menghilangkan masalah, tetapi memberikan kekuatan untuk menghadapi masalah,” jelasnya.
Pesan keharmonisan juga ditujukan kepada hubungan antara mertua dan menantu. Kiai Ramok berharap kedua pihak dapat membangun hubungan penuh kasih sayang, bukan permusuhan.
“Mertua harus baik kepada menantu, dan menantu harus menghormati mertua. Jangan sampai hanya karena perbedaan kecil membuat hubungan menjadi jauh, tidak saling menyapa, bahkan bermusuhan,” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar persoalan keluarga tidak diselesaikan dengan cara-cara yang bertentangan dengan nilai agama.

“Jangan sampai mertua dan menantu saling mencari jalan yang tidak baik. Semua persoalan harus diselesaikan dengan doa, komunikasi, dan akhlak,” tegasnya.
Di akhir pesannya, Kiai Ramok Segoro menyampaikan bahwa kekuatan manusia bukan hanya pada doa yang dibaca, tetapi juga pada perubahan perilaku.
“Ajian Semar Mesem dibaca terus menerus, tetapi kalau orangnya tetap sombong, mudah marah, dan selalu merengut kepada orang lain, akan percuma maka yang paling utama adalah akhlak dan tingkah laku,” ujarnya.
Pernikahan Nur Muyassaroh dan Abdul Kodir akhirnya menjadi lebih dari sekadar acara sakral. Ia menjadi pengingat bahwa rumah tangga adalah perjalanan yang membutuhkan cinta sebagai dasar, kesabaran sebagai pegangan, dan akhlak sebagai cahaya penerang.
Sebuah keluarga tidak dibangun hanya dengan janji di hari pernikahan, tetapi dengan kesetiaan menjaga janji tersebut setiap hari sepanjang perjalanan kehidupan.












