SITUBONDO – Tangis santri haru pecah di antara pelukan hangat orang tua dan anak. Di bawah langit yang menggantung kelabu, deru mesin kendaraan mulai terdengar pelan lalu menguat, seakan menjadi penanda tak terucap bahwa waktu kebersamaan harus kembali ditunda. Di sudut-sudut keberangkatan, doa lirih dipanjatkan, harapan dititipkan, dan langkah-langkah kecil mulai diarahkan menuju perjalanan panjang menuntut ilmu. Setelah 50 hari pulang kampung, para santri putri kini bersiap kembali menapaki jalan ilmu menuju Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Momentum ini bukan sekadar perpindahan fisik dari rumah ke pesantren. Ia adalah peristiwa emosional sekaligus sosial yang melibatkan ratusan keluarga, harapan masa depan, serta komitmen terhadap pendidikan berbasis nilai dan tradisi. Di tengah suasana yang sarat makna tersebut, aspek keamanan menjadi perhatian utama.
Polres Situbondo melalui jajaran Polsek Kapongan bersama Kapokdar Kamtibmas, Haji Ismail, hadir langsung di lokasi untuk melakukan monitoring dan pengamanan pemberangkatan. Kehadiran aparat ini tidak hanya bersifat formalitas, melainkan bagian dari strategi preventif yang terukur guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan terkendali.
Sejak pagi hari, skema pemberangkatan telah disusun secara sistematis. Titik-titik kumpul ditata dengan rapi, arus kendaraan diatur agar tidak menimbulkan kemacetan, serta jalur keberangkatan dipantau secara intensif. Koordinasi lintas elemen mulai dari aparat keamanan, panitia, hingga unsur masyarakat dilakukan secara sinergis untuk meminimalisir potensi gangguan di lapangan.
Di tengah dinamika tersebut, Ketua Majelis Suri Rayon IKSS Situbondo, Ustadz Aburowi, mengungkapkan bahwa sebanyak 30 armada telah disiapkan untuk mengangkut santri putri menuju pesantren. Armada ini terdiri dari berbagai jenis kendaraan yang disesuaikan dengan kapasitas dan kebutuhan, mencerminkan perencanaan matang demi menjamin kenyamanan perjalanan.
“Seluruh armada sudah kami siapkan dengan baik agar para santri bisa kembali ke pondok dengan aman dan nyaman,” ujarnya dengan nada optimistis.

Lebih dari sekadar jumlah, kesiapan armada ini mencerminkan keseriusan panitia dalam mengelola mobilitas santri dalam skala besar. Setiap kendaraan telah melalui pengecekan teknis, pengaturan penumpang dilakukan secara terstruktur, dan jadwal keberangkatan disusun agar tidak terjadi penumpukan di satu titik.
Sementara itu, pengawalan langsung dilakukan oleh aparat kepolisian sebagai bentuk penguatan keamanan selama perjalanan. Kapolsek Kapongan melalui Kanit Propam, Agus, menegaskan bahwa dua personel telah diterjunkan untuk mengawal rombongan hingga tiba di lokasi tujuan.
“Pengawalan dilakukan sampai ke area pesantren di Sukorejo sebagai bentuk komitmen kami dalam menjaga keamanan dan ketertiban,” jelasnya.
Langkah ini menegaskan bahwa keamanan tidak hanya difokuskan pada titik keberangkatan, tetapi juga sepanjang jalur perjalanan hingga ke titik akhir. Dengan demikian, potensi risiko di jalan dapat diminimalisir, sekaligus memberikan rasa aman yang berkelanjutan bagi para santri dan wali mereka.
Di sisi lain, kehadiran aparat keamanan di tengah-tengah masyarakat juga menghadirkan efek psikologis yang signifikan. Para orang tua yang melepas anak-anak mereka tampak lebih tenang, menyadari bahwa perjalanan tersebut berada dalam pengawasan yang profesional dan bertanggung jawab.
Pemberangkatan ini sekaligus menjadi refleksi dari kuatnya sinergi antara institusi kepolisian dan masyarakat dalam menjaga stabilitas sosial, khususnya dalam momentum-momentum penting yang melibatkan mobilitas massal. Kolaborasi ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan situasi yang kondusif di wilayah Situbondo.

Namun di balik semua kesiapan teknis dan pengamanan yang terstruktur, ada dimensi lain yang tak kalah penting yakni nilai pengorbanan dan keteguhan hati. Para santri, dengan langkah yang mungkin masih berat meninggalkan rumah, memilih untuk kembali ke pesantren demi sebuah tujuan besar: menuntut ilmu dan membangun masa depan.
Begitu pula para orang tua, yang dengan penuh keikhlasan melepas anak-anak mereka, menyadari bahwa perpisahan ini adalah bagian dari proses panjang pendidikan dan pendewasaan.
Pada akhirnya, pemberangkatan santri putri menuju Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo bukan sekadar perjalanan biasa. Ia adalah pertemuan antara haru dan harapan, antara perpisahan dan cita-cita, antara doa dan ikhtiar.
Di balik riuhnya suasana, tersimpan keyakinan yang sama bahwa setiap langkah yang mereka tempuh hari ini akan bermuara pada masa depan yang lebih baik, penuh ilmu, akhlak, dan keberkahan.












