Arti Penting Persaudaraan di Tengah Ketidakberdayaan, Pak Surais Bertahan Hidup Seorang Diri di Pegunungan Peleyan, Kapongan

Di tengah sunyinya pegunungan peleyan, Pak Surais menjalani hidup seorang diri dalam kondisi lumpuh. Bertahan dengan segala keterbatasan, ia hanya berharap masih ada kepedulian dan persaudaraan di sekitarnya

SITUBONDO – Seorang pria bernama Surais, warga Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo, harus menjalani hidup seorang diri di kawasan pegunungan selama kurang lebih tiga tahun dalam kondisi lumpuh pada bagian kaki. Di tengah keterbatasan fisik dan persoalan keluarga yang dihadapinya, Pak Surais bertahan hidup dari bantuan warga sekitar serta perhatian pemerintah desa yang terus berupaya mencarikan solusi kemanusiaan bagi dirinya.

Kondisi memprihatinkan itu diketahui saat awak media mendatangi lokasi tempat tinggal Pak Surais pada Senin (11/5/2026). Di sebuah tempat sederhana yang jauh dari keramaian permukiman warga, pria tersebut tampak menjalani kehidupan dengan segala keterbatasannya.

Tubuhnya yang tidak lagi mampu berjalan normal membuat Pak Surais harus menggunakan tongkat sebagai penyangga ketika bergerak. Bahkan dalam kondisi tertentu, ia terpaksa ngesot untuk berpindah tempat.

Meski hidup dalam keadaan serba sulit, Pak Surais tetap berusaha bertahan menjalani hari-harinya seorang diri.

“Saya sudah tinggal di sini sekitar tiga tahun,” ujar Pak Surais dengan suara lirih saat ditemui awak media.

Persaudaraan
Bangunan sederhana inilah yang selama tiga tahun terakhir menjadi tempat Pak Surais berteduh dari panas dan hujan di kawasan pegunungan Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan

Bertahan dari Bantuan Warga dan Orang yang Datang Menolong

Dalam keterasingannya di kawasan pegunungan, Pak Surais mengaku tidak memiliki penghasilan tetap maupun keluarga yang merawatnya secara langsung. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, dirinya hanya mengandalkan bantuan warga dan orang-orang yang datang menjenguknya.

“Kadang ada warga yang memberi makan, ada juga orang yang datang membantu,” katanya.

Situasi tersebut menggambarkan beratnya kehidupan yang dijalani Pak Surais. Di tengah kondisi lumpuh dan keterbatasan fisik, ia tetap berusaha bertahan hidup meski harus menghadapi kesendirian setiap hari.

Baca Juga:
Bhabinkamtibmas Desa Peleyan Teguhkan Peran Humanis Polri: HADIR – BERBUAT – BERMANFAAT di Tengah Denyut Masyarakat

Kisah tersebut sontak mengundang perhatian masyarakat karena dinilai menjadi potret nyata tentang pentingnya kepedulian sosial terhadap warga yang hidup dalam ketidakberdayaan.

Selain itu, kondisi Pak Surais juga menjadi pengingat bahwa hubungan persaudaraan memiliki arti besar ketika seseorang berada dalam masa paling sulit dalam hidupnya.

Persaudaraan
Dengan kondisi kaki yang lumpuh, Pak Surais harus menempuh jarak sekitar 30 meter menuju tempat memasak sederhana untuk memenuhi kebutuhan makannya sehari-hari

Pemerintah Desa Benarkan Kondisi Pak Surais

Sementara itu, Kepala Desa Peleyan saat dikonfirmasi awak media membenarkan bahwa Pak Surais merupakan warga desanya. Ia menjelaskan bahwa pemerintah desa selama ini telah berupaya membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi Pak Surais, termasuk melakukan mediasi keluarga ketika kondisi kesehatannya masih baik.

“Dulu waktu beliau masih sehat, pernah dimediasi di kantor desa bersama keluarganya terkait persoalan internal keluarga,” terang Kepala Desa Peleyan.

Menurutnya, pemerintah desa tidak tinggal diam melihat kondisi salah satu warganya yang hidup dalam keterbatasan. Bahkan sebagai bentuk kepedulian, kepala desa mengaku siap menyediakan rumah pribadinya apabila memang dibutuhkan untuk tempat tinggal Pak Surais.

“Kalau soal tempat tinggal, saya siap rumah saya ditempati Pak Surais,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya perhatian dari pemerintah desa terhadap kondisi sosial dan kemanusiaan yang dialami Pak Surais.

Dalam keterbatasannya, Pak Surais tetap berusaha bertahan hidup. Usai memasak, ia menarik karung berisi nasi dengan tenaga seadanya karena kondisi tubuhnya yang tidak lagi mampu berjalan normal

Persoalan Utama Bukan Sekadar Tempat Tinggal

Meski bantuan tempat tinggal mulai dipikirkan, persoalan yang dihadapi Pak Surais sebenarnya tidak sesederhana soal rumah semata. Dalam kondisi lumpuh dan hidup seorang diri, Pak Surais membutuhkan pendampingan serta perawatan yang berkelanjutan.

Baca Juga:
Qurma Berkasih, Al-Qur'an Menggema di Maqbaroh PP Salafiyah Syafi’iyah RA Al Hikmah Curah Jeru Panji Situbondo Gelar Kegiatan Bersama Kemenag

Ia membutuhkan bantuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari, mulai dari makan, menjaga kebersihan diri, hingga pengawasan kesehatan.

Karena itu, persoalan terbesar yang kini menjadi perhatian berbagai pihak adalah siapa yang akan mendampingi dan merawat Pak Surais dalam ketidakberdayaannya.

Kondisi tersebut sekaligus menjadi refleksi sosial bahwa keberadaan keluarga memiliki arti penting dalam kehidupan seseorang, terutama ketika sedang berada dalam kondisi lemah dan membutuhkan pertolongan.

Di tengah kehidupan masyarakat modern yang semakin individualistis, kisah Pak Surais menjadi gambaran nyata bahwa kepedulian dan perhatian dari sesama manusia tetap menjadi kebutuhan mendasar.

Jangankan berjalan, untuk berdiri saja Pak Surais harus berjuang

Pemerintah Disebut Siap Memberikan Bantuan Rumah

Informasi yang dihimpun awak media menyebutkan bahwa pemerintah juga telah menunjukkan kepeduliannya terhadap kondisi Pak Surais dengan menyiapkan bantuan rumah agar dirinya dapat hidup lebih layak dan aman.

Langkah tersebut menjadi harapan baru bagi Pak Surais untuk memperoleh kehidupan yang lebih manusiawi dibanding tinggal sendirian di kawasan pegunungan.

Namun demikian, bantuan fisik berupa tempat tinggal dinilai perlu dibarengi dengan perhatian sosial dan pendampingan yang nyata agar kebutuhan hidup Pak Surais dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

Sejumlah warga sekitar mengaku prihatin melihat kondisi yang dialami pria tersebut. Mereka berharap ada solusi terbaik agar Pak Surais tidak lagi menjalani hidup seorang diri tanpa perawatan memadai.

“Kami kasihan melihat beliau hidup sendirian dengan kondisi seperti itu,” ujar salah seorang warga.

Menjadi Pengingat Tentang Nilai Kemanusiaan

Kisah Pak Surais bukan hanya tentang seorang pria lumpuh yang tinggal di pegunungan. Lebih dari itu, kisah tersebut menjadi cermin tentang arti penting persaudaraan, kepedulian sosial, dan nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga:
Lapen Desa Lamongan Situbondo Bikin Petani Tersenyum, Akses Jalan Kini Lancar

Ketika seseorang kehilangan kemampuan fisik, kehilangan penghasilan, bahkan kehilangan tempat bergantung, maka perhatian dari sesama menjadi harapan terakhir untuk bertahan hidup.

Karena itu, peristiwa yang dialami Pak Surais menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak boleh berhenti pada rasa iba semata. Dibutuhkan langkah nyata, gotong royong, serta perhatian bersama agar warga yang hidup dalam ketidakberdayaan tetap mendapatkan hak hidup yang layak sebagai sesama manusia.