Sopan Santun: Bahasa Tindakan, Bukan Topeng

Redaksi

Situbondo – Direktur TAMAMI GROUP Situbondo, Arief Ma’ruf Riscahyono, menekankan bahwa sopan santun bukan sekadar persoalan kata-kata indah, gerak tubuh formal, atau senyum yang terlihat ramah. Menurutnya, sopan santun sejati adalah bahasa tindakan yang lahir dari kesadaran sosial dan kejujuran batin.

Arief menjelaskan, pikiran manusia sejatinya berjalan bebas, jujur, dan murni tanpa harus dibatasi oleh norma formal. Namun, ketika pikiran dipaksa agar selalu terlihat sopan, kemurniannya justru hilang dan berubah menjadi sebuah tiruan. “Sopan santun yang dipaksakan hanyalah topeng, menutupi realitas diri dengan kemunafikan yang terselubung di balik kata-kata manis,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa sopan santun tidak semestinya dijadikan ukuran tunggal untuk menilai kesopanan seseorang. Sebab, kejujuran batin tidak membutuhkan ucapan manis atau sikap formal; ia hadir sebagai kesadaran yang jernih.

“Yang perlu kita pahami, sopan santun adalah bahasa tubuh dari kesadaran sosial. Saat batin kita jujur, tindakan pun akan tulus. Tidak perlu dibuat-buat, apalagi diselimuti topeng,” kata Arief.

Dengan menyadari hal ini, lanjutnya, masyarakat dapat lebih mudah membedakan antara etika lahiriah yang bersifat formal dengan ketulusan hati yang sejati. Ia berharap pesan ini dapat menjadi renungan bersama dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Baca Juga:
Amplop Kiai dan Pajak: Antara Aturan dan Rasa