Pengusaha Sukses Bekerja Tanpa Gaduh: Mashudi S.TP., Tekankan Manajemen Diri dan Riset sebagai Fondasi Usaha Berkelanjutan

Di tengah iklim usaha yang kian kompetitif dan sarat pencitraan, keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling lantang berbicara. Justru sebaliknya, pengusaha yang mampu bekerja dalam ketenangan, terukur, dan berbasis perencanaan matang kerap menjadi aktor utama di balik keberhasilan jangka panjang. Pandangan ini ditegaskan oleh Mashudi S.TP., pengusaha sekaligus mantan ketua Dewan Riset Daerah Situbondo, yang menilai bahwa kegaduhan sering kali menjadi musuh terbesar produktivitas.

Menurut Mashudi, dunia usaha menuntut lebih dari sekadar kepiawaian beretorika. Ia menekankan bahwa keberhasilan sejati lahir dari kemampuan mengelola diri, emosi, dan pikiran secara disiplin. “Kerja yang gaduh baik dari lisan maupun dari pikiran membuat fokus terpecah. Padahal usaha membutuhkan konsentrasi penuh, ketenangan batin, dan kendali diri yang kuat,” ujarnya, (Jumat 13/2/2026).

Bekerja Tenang, Berpikir Jauh ke Depan

Mashudi menjelaskan, banyak pelaku usaha yang terjebak pada kesibukan berbicara tentang rencana, target, dan mimpi besar, namun minim pada tahap eksekusi. Fenomena ini, menurutnya, kerap menimbulkan ilusi produktivitas. Aktivitas terlihat padat, tetapi hasil nyata sulit diukur.

“Tidak sedikit orang yang terlihat pintar berbicara, tetapi lemah dalam bekerja. Kepintaran berbicara tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan mengeksekusi,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa ukuran keberhasilan dalam usaha seharusnya bertumpu pada capaian konkret, bukan pada seberapa sering seseorang tampil atau menyampaikan narasi.

Dalam pandangannya, bekerja dengan tenang bukan berarti pasif atau lamban. Sebaliknya, ketenangan adalah kondisi mental yang memungkinkan pengusaha berpikir jernih, membaca peluang secara objektif, serta mengambil keputusan strategis tanpa tekanan emosi berlebihan. “Keputusan terbaik sering lahir dari pikiran yang tenang, bukan dari suasana gaduh,” katanya.

Ketegasan Bukan Kekakuan

Baca Juga:
Tambang Ilegal, Alam Situbondo Menjerit

Salah satu poin penting yang ditekankan Mashudi adalah pembedaan antara sikap kaku dan ketegasan. Dalam dunia usaha, ketegasan kerap disalahartikan sebagai kekerasan sikap atau penolakan terhadap perubahan. Padahal, menurutnya, ketegasan justru merupakan bentuk konsistensi terhadap nilai dan prinsip yang diyakini.

“Ketegasan adalah keberanian memegang prinsip tanpa kompromi yang merusak. Salah tetap salah, benar tetap benar. Itu bukan kekakuan, melainkan konsistensi,” ungkapnya. Ia menilai bahwa pengusaha yang tegas akan lebih mudah membangun kepercayaan, baik dengan mitra, karyawan, maupun konsumen.

Mashudi juga menegaskan bahwa fleksibilitas dalam usaha tetap penting, tetapi harus dibingkai oleh nilai dasar yang kuat. Tanpa fondasi prinsip, fleksibilitas justru berpotensi berubah menjadi inkonsistensi yang merugikan arah bisnis.

Bekerja
Photo: Mashudi S.TP., Mantan Ketua Dewan Riset Daerah Situbondo

Riset sebagai Nafas Usaha

Lebih jauh, Mashudi menekankan bahwa tidak ada usaha besar yang lahir secara instan. Di balik kesuksesan yang terlihat, selalu ada proses panjang berupa perencanaan, pengumpulan data, analisis risiko, dan riset yang mendalam. Menurutnya, riset bukan sekadar pelengkap, melainkan nafas utama dalam membangun usaha yang berkelanjutan.

“Orang yang bekerja dengan riset akan terlihat dari detail langkah yang diambil. Mulai dari perhitungan risiko, pemetaan pasar, hingga strategi jangka panjang,” jelasnya. Ia menilai bahwa banyak kegagalan usaha terjadi bukan karena kurang modal, melainkan karena minimnya riset dan perencanaan.

Pengalaman Mashudi di dunia riset daerah memperkuat keyakinannya bahwa pendekatan berbasis data dan analisis ilmiah dapat membantu pelaku usaha menghindari keputusan spekulatif. Dengan riset, setiap langkah memiliki dasar yang rasional, bukan sekadar dorongan emosi atau tren sesaat.

Kritik terhadap Budaya Pencitraan

Dalam refleksinya terhadap generasi muda, Mashudi menyoroti pergeseran budaya kerja yang semakin menonjolkan citra dibandingkan sistem. Ia mengamati bahwa tidak sedikit pelaku usaha muda yang lebih fokus membangun tampilan luar baik di media sosial maupun ruang publik ketimbang membangun fondasi internal usaha.

Baca Juga:
Opini: Polemik LSM dan Pemerintah_Antara Energi Korektif atau Sekadar Drama Media?

“Banyak yang lebih sibuk membangun citra daripada membangun sistem,” ujarnya lugas. Menurutnya, citra tanpa sistem hanya akan menghasilkan popularitas sesaat yang rapuh. Ketika tantangan datang, usaha yang tidak memiliki sistem kuat akan mudah goyah.

Ia menilai bahwa budaya kerja yang rapi, senyap, dan berbasis riset masih belum menjadi arus utama. Padahal, justru pendekatan inilah yang terbukti mampu melahirkan usaha yang tahan terhadap perubahan zaman.

Harapan bagi Pelaku Usaha Muda

Di akhir pandangannya, Mashudi menyampaikan harapan agar semakin banyak pelaku usaha muda yang menempatkan disiplin, manajemen diri, dan riset sebagai fondasi utama. Menurutnya, dunia usaha ke depan akan semakin menuntut kedewasaan berpikir, bukan sekadar keberanian tampil.

“Usaha yang berkelanjutan dibangun dari ketenangan, bukan kegaduhan. Dari sistem, bukan sensasi,” katanya. Ia meyakini bahwa pengusaha yang mampu mengendalikan diri akan lebih siap menghadapi dinamika pasar yang cepat berubah.

Bagi Mashudi, kesuksesan sejati bukan hanya tentang pertumbuhan materi, tetapi juga tentang kualitas proses. Bekerja tanpa gaduh, berpikir dengan riset, dan bertindak dengan ketegasan adalah kombinasi yang, menurutnya, akan terus relevan dalam dunia usaha apa pun zamannya.