Situbondo – Setiap pagi dan sore, puluhan warga melintasi Jembatan Limpas Sliwung dengan perasaan waswas. Jembatan yang menghubungkan Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo, dengan Desa Sliwung, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, itu kini tidak lagi memberi rasa aman. Kondisinya yang semakin rusak menjadi ancaman nyata bagi keselamatan manusia, bukan sekadar persoalan bangunan.
Pantauan di lapangan menunjukkan permukaan jembatan tampak tidak rata dan miring di beberapa bagian. Struktur beton terlihat aus, sementara bekas gerusan air sungai meninggalkan celah-celah yang rawan membahayakan pengendara, khususnya pengguna sepeda motor. Saat hujan turun atau malam tiba, risiko itu berlipat ganda. Rabu (21/1/2026).
Jembatan Limpas Sliwung bukan jalur alternatif. Ia adalah akses utama yang menghubungkan dua desa dengan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial yang padat. Anak-anak sekolah, pedagang kecil, petani, hingga warga yang membutuhkan layanan kesehatan, setiap hari menggantungkan mobilitasnya pada jembatan ini.
Ketua Umum LSM Perjuangan Rakyat, Rachmad Hartadi, menyampaikan keprihatinannya setelah melakukan peninjauan langsung ke lokasi bersama masyarakat. Ia menilai kondisi jembatan saat ini sudah jauh dari kata layak dan tidak sebanding dengan beban aktivitas warga yang melintasinya.
“Ini bukan sekadar soal retak atau miring. Ini soal keselamatan manusia. Setiap hari ada orang tua, anak-anak, dan pekerja yang melintas. Mereka hanya ingin sampai tujuan dengan selamat,” ujar Hartadi.

Menurutnya, kerusakan jembatan bukan hanya terlihat secara fisik, tetapi juga dirasakan secara psikologis oleh warga. Banyak pengendara terpaksa mengurangi kecepatan secara ekstrem atau bahkan berhenti sejenak sebelum melintas, memastikan jalur aman untuk dilewati.
Kondisi semakin memprihatinkan ketika debit air sungai meningkat. Pada saat tertentu, jembatan tidak dapat digunakan sama sekali karena terendam. Akibatnya, akses antar desa terputus, dan warga harus mencari jalur memutar yang jaraknya jauh serta memakan waktu lebih lama.
“Bayangkan jika ada warga sakit dan harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Ketika jembatan tidak bisa dilalui, waktu menjadi taruhan. Ini menyangkut nyawa,” kata Hartadi.
Ia menambahkan, keterisolasian sementara akibat terputusnya akses juga berdampak pada roda perekonomian desa. Hasil pertanian terlambat dipasarkan, aktivitas jual beli tersendat, dan penghasilan warga ikut terpengaruh.
Dalam pandangannya, desain jembatan yang ada saat ini tidak sesuai dengan karakter wilayah dan kondisi alam setempat. Wilayah Desa Sliwung dikenal memiliki aliran sungai dengan debit yang bisa berubah drastis, terutama saat musim hujan. Karena itu, Hartadi mengusulkan agar jembatan tersebut dikembalikan ke bentuk jembatan gantung seperti sebelumnya.
“Jembatan gantung dulu lebih adaptif. Lebih aman, tidak mudah terendam, dan memberikan rasa tenang bagi warga. Pengalaman masa lalu menunjukkan itu,” ujarnya.

Usulan tersebut, menurut Hartadi, bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan refleksi dari kebutuhan riil masyarakat. Ia menilai pendekatan pembangunan seharusnya berangkat dari pengalaman warga yang setiap hari bersentuhan langsung dengan infrastruktur tersebut.
Bagi warga sekitar, jembatan bukan sekadar struktur penghubung, melainkan simbol keberlanjutan hidup. Rusaknya jembatan berarti terganggunya ritme kehidupan sehari-hari. Seorang warga Desa Sliwung, yang enggan disebutkan namanya, mengaku selalu merasa cemas setiap kali melintas.
“Kalau pagi masih bisa lihat jelas. Tapi kalau malam atau hujan, rasanya deg-degan. Takut tergelincir atau jatuh,” katanya.
Kecemasan itu bukan tanpa alasan. Permukaan jembatan yang tidak rata membuat kendaraan mudah oleng. Beberapa warga bahkan memilih menuntun sepeda motor saat melintas demi mengurangi risiko.
Hartadi menegaskan, persoalan ini seharusnya menjadi perhatian serius semua pihak, baik pemerintah pusat maupun daerah. Menurutnya, pembangunan infrastruktur sejatinya harus berpihak pada keselamatan dan kenyamanan rakyat, bukan sekadar mengejar aspek teknis atau administratif.
“Jangan menunggu sampai ada korban. Sejarah sering menunjukkan, perhatian baru datang setelah kejadian tragis. Padahal, pencegahan jauh lebih manusiawi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa aspirasi yang disampaikan bukan bersifat politis, melainkan murni dorongan kemanusiaan. Warga hanya menginginkan akses yang aman untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, Hartadi menyebut jalur ini sebagai akses vital yang menopang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat desa. Ketika akses terganggu, dampaknya berantai dan dirasakan oleh banyak pihak, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
“Kami berbicara atas nama masyarakat kecil. Mereka tidak meminta yang berlebihan, hanya jembatan yang aman dan layak dilalui,” katanya.
Ia berharap suara warga tidak hanya didengar, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata. Menurutnya, kehadiran negara seharusnya dirasakan langsung oleh masyarakat melalui perlindungan keselamatan dan kemudahan akses.
“Pembangunan sejatinya bukan soal beton dan besi, tetapi soal manusia. Jika rakyat masih merasa takut saat melintas di jembatan, berarti ada yang belum selesai,” ujar Hartadi menutup pernyataannya.
Kini, harapan warga Desa Kotakan dan Desa Sliwung tertumpu pada kepedulian dan langkah cepat para pemangku kebijakan. Mereka menanti jembatan yang tidak lagi menjadi sumber kecemasan, melainkan kembali menjadi penghubung kehidupan aman, manusiawi, dan bermartabat.












