Berita  

Santri Situbondo Tuntut Keadilan atas Fitnah Trans7 terhadap Pesantren

Redaksi
Keadilan

Santri Situbondo Tuntut Keadilan atas Fitnah Trans7 terhadap Pesantren: Gerakan Damai Bela Marwah Dunia Pesantren

1. Latar Belakang: Fitnah terhadap Pesantren yang Mengusik Nurani Santri

Polemik pemberitaan oleh salah satu stasiun televisi nasional, Trans7, telah memicu gelombang reaksi keras di berbagai daerah, khususnya dari kalangan santri dan Nahdliyyin. Tayangan yang menyebut bahwa “santri dijadikan pekerja dan budak”, serta menuding “kyai bersikap feodal”, dianggap sebagai fitnah yang menodai citra luhur dunia pesantren.

Bagi kalangan pesantren, kerja bakti, gotong royong, atau membantu pembangunan adalah bagian dari pengabdian dan pendidikan karakter. Nilai-nilai seperti keikhlasan, kerja keras, dan kebersamaan justru tumbuh dari aktivitas itu. Maka, ketika aktivitas mulia itu diframing negatif, wajar bila para santri merasa dilecehkan.

“Kami tidak pernah merasa dijadikan pekerja. Kami bekerja dengan cinta, demi barokah ilmu dan hormat kepada guru,” ujar Nawawi, santri asal Situbondo.

2. Gelombang Aksi Damai dari Santri Situbondo

Pada Sabtu, 14 Oktober 2025, ribuan santri di Kabupaten Situbondo menggelar aksi damai di alun-alun kota. Mereka datang dari berbagai pesantren di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) dan lembaga keagamaan lainnya.

Aksi ini bukan hasil provokasi, melainkan lahir dari kesadaran kolektif para santri yang merasa martabat pesantren telah diinjak. Tanpa kekerasan, tanpa amarah, mereka berjalan sambil melantunkan shalawat, membawa spanduk bertuliskan “Trans7 Harus Bertanggung Jawab!” dan “Jangan Nodai Pesantren dengan Fitnah!”.

“Santri bukan budak. Santri pejuang ilmu dan akhlak. Kami datang bukan untuk rusuh, tapi menuntut keadilan,” seru salah satu orator aksi.

Baca juga:
Kapolres Lumajang Beri Reward untuk Personel dan Masyarakat Berprestasi

3. Pernyataan Tokoh Hukum dan Masyarakat Situbondo

Baca Juga:
Warga Tanjung Sari Timur Gelar Rapat Kasti Tradisional di Rumah Kepala Dusun

Aksi santri ini juga mendapat dukungan dari tokoh masyarakat dan praktisi hukum. Taufik, S.H., advokat asal Situbondo, menilai bahwa fitnah terhadap pesantren tidak bisa dianggap remeh.

“Hukum harus ditegakkan dengan penuh rasa keadilan. Dunia pesantren adalah tempat suci pembentuk akhlak dan ilmu. Jangan sampai fitnah seperti ini hanya berakhir dengan permintaan maaf yang kemudian hilang tanpa tanggung jawab hukum,” tegasnya.

Menurutnya, lembaga penyiaran publik seharusnya memiliki tanggung jawab etis dan moral dalam menyiarkan konten yang berkaitan dengan agama dan lembaga pendidikan keagamaan. Kesalahan framing berita bisa menimbulkan efek sosial yang sangat luas.

4. Pesantren Sebagai Lembaga Peradaban, Bukan Tempat Eksploitasi

Dalam sejarah bangsa Indonesia, pesantren memiliki peran besar membentuk karakter bangsa. Sejak masa perjuangan melawan penjajahan, pesantren menjadi pusat pendidikan moral, spiritual, dan kebangsaan.

Kegiatan seperti gotong royong atau “ngecor” bukanlah bentuk eksploitasi. Itu adalah bentuk latihan tanggung jawab sosial dan spiritualitas kerja. Santri belajar bahwa ilmu harus dibarengi amal, dan kerja keras adalah bagian dari ibadah.

“Santri yang membantu pembangunan pesantren sedang beramal jariyah. Mereka menanam kebaikan yang pahalanya terus mengalir,” ujar Arifin MH alumni pondok pesantren salafiyah syafi’iyah Sukorejo

Keadilan

5. Reaksi Nasional: Solidaritas Santri dari Berbagai Daerah

Aksi serentak juga terjadi di berbagai daerah lain seperti Jombang, Kediri, Tasikmalaya, Madura, dan Banten. Mereka menggelar doa bersama dan long march damai menuntut klarifikasi terbuka dari Trans7.

Di media sosial, tagar #SantriMenuntutKeadilan dan #BoikotTrans7 sempat menjadi trending topic nasional. Banyak tokoh agama, akademisi, dan publik figur ikut menyuarakan keprihatinan atas pemberitaan yang dinilai menyudutkan pesantren.

6. Pemberitaan yang Menyulut Amarah Umat

Baca Juga:
[HOAKS] Link Cek Isi KTP Penerima Bansos Oktober 2025

Dalam tayangan Trans7 tersebut, digambarkan aktivitas para santri membantu pembangunan pondok. Namun narasi yang muncul menyebut mereka “diperlakukan seperti pekerja”. Padahal, konteksnya jauh berbeda: para santri melakukan itu dengan sukarela, sebagai bentuk latihan tanggung jawab sosial.

Kesalahan framing ini memunculkan persepsi negatif dan menimbulkan stigma bahwa pesantren adalah lembaga yang menindas santri. Padahal, di balik tembok pesantren, para santri justru menemukan kebebasan spiritual dan kemandirian hidup.

7. Tuntutan Santri: Keadilan, Klarifikasi, dan Etika Media

Dalam pernyataan resmi aksi, santri Situbondo menegaskan tiga tuntutan utama:

1. Trans7 harus menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan resmi kepada seluruh pesantren di Indonesia.

2. KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) diminta memberikan sanksi atas pelanggaran etika jurnalistik yang dilakukan.

3. Proses hukum harus berjalan jika terbukti ada unsur pencemaran nama baik lembaga keagamaan.

“Kami tidak anti kritik. Tapi jangan ada fitnah yang menyesatkan publik. Kami menuntut keadilan, bukan balas dendam,” ujar salah satu peserta aksi.

8. Media dan Tanggung Jawab Sosial

Pers memiliki peran vital sebagai penjaga kebenaran dan keseimbangan informasi. Namun ketika media melenceng dari prinsip etik, dampaknya sangat luas. Fitnah terhadap pesantren bukan sekadar salah tayang, tapi juga melukai jutaan umat Islam yang bernaung di bawah lembaga pendidikan itu.

Oleh karena itu, para tokoh menilai bahwa kasus ini bisa menjadi momentum introspeksi bagi dunia jurnalisme nasional untuk kembali menegakkan etika, akurasi, dan empati dalam pemberitaan.

Keadilan

9. Suara Dari Dalam Pesantren

Para pengasuh pesantren di Situbondo menegaskan bahwa aktivitas santri dalam pembangunan pesantren merupakan tradisi luhur yang mengandung nilai spiritual. Hal itu bukan paksaan, melainkan latihan hidup mandiri dan gotong royong.

Baca Juga:
PT. BRANN TOBACCO INDONESIA Dukung Menkeu Purbaya Berantas Rokok Ilegal

“Santri yang terbiasa bekerja keras akan kuat menghadapi hidup,”

Banyak santri yang sukses di kemudian hari karena terbentuk karakter kuat dari tradisi kerja keras di pesantren.

10. Pelajaran dari Polemik Ini

Kasus ini menyadarkan kita bahwa kepekaan terhadap konteks budaya dan agama sangat penting dalam dunia jurnalistik. Tidak semua hal bisa dilihat dari sudut pandang industri atau media modern. Pesantren memiliki nilai tersendiri yang hanya bisa dipahami dengan hati, bukan sekadar kamera dan naskah berita.

11. Harapan Umat dan Jalan Keadilan

Santri Situbondo berharap Trans7 mau menyampaikan permohonan maaf terbuka dan melakukan klarifikasi melalui tayangan resmi. Bukan untuk mempermalukan, tapi untuk memulihkan marwah pesantren dan menjaga ukhuwah nasional.

“Kami maafkan, tapi hukum harus tetap berjalan. Karena fitnah adalah dosa sosial yang harus diluruskan,” tegas salah satu santri di sela aksi.

12. Pesan Damai dari Situbondo untuk Indonesia

Aksi santri di Situbondo menjadi simbol bahwa perjuangan menegakkan kebenaran bisa dilakukan tanpa kekerasan. Mereka berdiri dengan santun, bersuara dengan hikmah, dan tetap menjaga kehormatan pesantren.

Situbondo kembali menjadi kiblat ketenangan dan kebijaksanaan santri Nusantara, menegaskan bahwa cinta kepada pesantren bukan sekadar emosional, melainkan spiritual dan moral.

Baca juga:
Kapolres Lumajang Beri Reward untuk Personel dan Masyarakat Berprestasi

Santri dan Gotong Royong: Tradisi Luhur yang Membentuk Karakter Bangsa

Nilai-nilai Kemandirian Santri di Tengah Era Digital

Kesimpulan

Pemberitaan Trans7 yang menyinggung pesantren bukan sekadar kesalahan redaksional ~ tetapi cermin betapa pentingnya memahami nilai-nilai lokal dan religius.

Santri Situbondo, dengan aksi damai dan berakhlak, telah memberi pelajaran berharga kepada bangsa ini:
bahwa keadilan tidak harus diperjuangkan dengan amarah, melainkan dengan kesantunan dan keteguhan iman.

Baca Juga:
Air P2S2 Sukorejo Menguat sebagai AMDK Berbasis Pesantren, Menggabungkan Kualitas, Kepercayaan, dan Dampak Sosial

Aksi mereka bukan hanya membela pesantren, tetapi juga membela marwah ilmu, guru, dan kebenaran.

Santri bukan budak. Santri adalah pejuang ilmu.
Dari Situbondo, suara kebenaran bergema
menembus layar, menggugah nurani bangsa.