Opini  

Ketika Oportunis Berburu Celah, Semar, Bagong, Gareng, dan Petruk Ikut Mengamati Panggung Publik

Oportunis
Semar mengingatkan, jangan sampai kepedulian hanya menjadi panggung untuk mencari perhatian. Bagong bertanya polos, apakah membantu harus selalu disertai kamera? Gareng mengajarkan bahwa langkah pelan dengan niat baik lebih berarti daripada jalan cepat dengan arah yang salah. Sementara Petruk menyindir para pemburu panggung yang ingin terlihat bersinar, tetapi lupa memberi cahaya.

Nusantara – Oportunis, Dunia panggung kehidupan kembali menghadirkan pertunjukan menarik. Kali ini bukan soal siapa yang paling hebat memainkan peran, melainkan siapa yang paling cepat menemukan celah ketika keadaan sedang ramai.

Di tengah berbagai persoalan sosial, muncul fenomena unik: sebagian orang datang membawa solusi, sementara sebagian lainnya datang membawa kalkulator imajinasi untuk menghitung peluang keuntungan.

Fenomena tersebut oleh pengamat kehidupan warung kopi disebut sebagai “seni membaca angin”. Sebuah kemampuan luar biasa untuk mengetahui kapan harus tampil, kapan harus berbicara, dan kapan harus berada di posisi yang paling menguntungkan.

Namun, seperti kata pepatah lama, terlalu sibuk membaca arah angin terkadang membuat seseorang lupa bahwa dirinya juga sedang dilihat.

Semar Mengingatkan: Jangan Sampai Kebaikan Hanya Jadi Panggung

Dalam diskusi imajiner di sebuah pendopo sederhana, Semar terlihat menggelengkan kepala melihat fenomena manusia modern yang berlomba menjadi tokoh utama.

“Jangan sampai tangan sibuk menunjuk kepedulian, tetapi hati sibuk menghitung keuntungan,” begitu kira-kira pesan bijak Semar.

Menurut Semar, peluang bukanlah sesuatu yang salah. Yang menjadi persoalan adalah ketika peluang digunakan untuk menaikkan diri sendiri dengan mengorbankan kepentingan bersama.

Sebab membantu masyarakat bukanlah perlombaan mencari sorotan. Kebaikan bukan panggung hiburan yang membutuhkan tepuk tangan.

Bagong Bertanya Polos: Kalau Ikhlas, Mengapa Banyak Kamera?

Sementara itu, Bagong dengan wajah polosnya melontarkan pertanyaan yang membuat suasana menjadi hening.

“Kalau memang datang untuk membantu, mengapa yang paling sibuk dipastikan terlihat adalah dirinya sendiri?”

Pertanyaan Bagong terdengar sederhana, tetapi cukup membuat para pemburu citra menata ulang posisi berdirinya.

Fenomena hari ini memang unik. Ada yang bekerja dalam diam, tetapi ada pula yang lebih sibuk memastikan bahwa diamnya diketahui banyak orang.

Baca Juga:
Pesantren sebagai Benteng Moral dan Cahaya Indonesia

Antara benar-benar bekerja dan terlihat bekerja ternyata memiliki jarak yang cukup panjang.

Gareng Mengingatkan: Langkah Pelan Lebih Baik daripada Arah yang Salah

Gareng kemudian ikut berbicara. Dengan langkah khasnya yang tidak sempurna, ia menyampaikan pesan bahwa tidak semua yang cepat berarti benar.

Menurut Gareng, manusia sering kali tergoda mengambil jalan pintas karena ingin segera mendapatkan hasil.

Padahal, membangun kepercayaan membutuhkan waktu. Sedangkan membangun pencitraan terkadang hanya membutuhkan sedikit panggung dan banyak suara.

“Yang penting bukan siapa yang paling depan saat kamera menyala, tetapi siapa yang tetap berdiri ketika tanggung jawab datang,” pesan Gareng.

Petruk Menertawakan Para Pemburu Panggung

Berbeda dengan yang lain, Petruk memilih tertawa melihat tingkah manusia yang berebut menjadi pemeran utama.

Menurut Petruk, dunia ini kadang seperti pertunjukan besar. Semua ingin mendapat peran penting, tetapi tidak semua mau membantu menyiapkan panggung.

Ada yang ingin disebut pahlawan sebelum masalah selesai. Ada yang ingin mendapat penghargaan sebelum pekerjaan benar-benar tuntas.

“Lucu juga, banyak yang ingin menjadi matahari, tetapi lupa bahwa masyarakat hanya membutuhkan cahaya, bukan silau,” ujar Petruk dalam gaya sindiran khasnya.

Arief Ma’ruf Riscahyono: Oportunisme Adalah Ujian Karakter

Menurut Arief Ma’ruf Riscahyono, Pimpinan Redaksi salah satu media di Situbondo sekaligus Direktur Tamami, oportunisme bukan sekadar persoalan tentang siapa yang paling cepat menemukan peluang, melainkan siapa yang mampu mempertanggungjawabkan peluang tersebut.

Sebab, kecerdasan membaca situasi tanpa dibimbing etika hanya akan melahirkan kepandaian mencari celah. Sementara kecerdasan yang disertai integritas akan melahirkan perubahan.

“Ruang publik tidak kekurangan orang yang pandai berbicara. Yang sering kurang adalah orang yang konsisten antara ucapan dan tindakan. Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak menilai seseorang dari seberapa sering ia tampil, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ia tinggalkan,” ujar Arief Ma’ruf Riscahyono.

Baca Juga:
Surya Kanta: Fokus yang Menyalakan Kehidupan

Ketika Kepedulian Menjadi Komoditas

Di zaman ketika perhatian publik memiliki nilai tinggi, kepedulian terkadang ikut masuk dalam arena persaingan.

Sebuah masalah bisa menjadi peluang membangun nama. Sebuah isu bisa menjadi kendaraan popularitas. Bahkan kesulitan masyarakat bisa berubah menjadi latar belakang untuk memperkuat citra.

Namun masyarakat bukan penonton yang selamanya mudah percaya.

Waktu akan membuktikan siapa yang hadir membawa perubahan dan siapa yang hanya datang ketika panggung tersedia.

Panggung Bisa Berganti, Karakter Tetap Terlihat

Pada akhirnya, setiap kesempatan adalah ujian.

Ada yang menggunakan kesempatan untuk memberi manfaat. Ada pula yang menggunakannya untuk mencari keuntungan sesaat.

Semar, Bagong, Gareng, dan Petruk seolah mengingatkan bahwa manusia boleh pintar membaca peluang, tetapi jangan sampai kehilangan arah.

Sebab dalam kehidupan, popularitas bisa datang dan pergi. Sorotan bisa padam kapan saja.

Namun karakter akan selalu menjadi cerita yang tertinggal.

Karena masyarakat tidak membutuhkan lebih banyak pemburu celah. Masyarakat membutuhkan manusia yang mampu menjaga nilai.