Simpatisan dan Militan Sampaikan Harapan untuk P3 Situbondo

Redaksi

Situbondo ~ Suasana pertemuan simpatisan dan militan Partai Persatuan Pembangunan (P3) Situbondo pada Selasa (3/12/2025) berlangsung cair, namun sarat pesan kritis. Silaturahmi yang awalnya sebagai temu kangen biasa itu perlahan berubah menjadi evaluasi, ruang tutur bagi mereka yang selama ini berdiri di garis paling depan menjaga marwah partai. Di sebuah rumah sederhana yang menjadi titik kumpul, cerita tentang harapan, kegelisahan, dan kenangan atas perjuangan tokoh-tokoh pendahulu P3 kembali menyeruak.

Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa loyalitas akar rumput P3 tetap kuat. Namun di balik kesetiaan itu, ada suara-suara yang berharap partai tidak kehilangan arah di tengah dinamika politik lokal. Mereka menilai, sejarah panjang P3 di Situbondo yang identik dengan figur kiai kharismatik adalah modal besar yang tidak boleh diabaikan. Dan modal itu hanya akan tetap hidup jika kader masa kini mampu menjaga ruh perjuangan dengan disiplin, komitmen, dan penghormatan terhadap para pendahulu.

Kesetiaan yang Lahir dari Keteladanan

Salah satu simpatisan, Bapak Andi, tampil menjadi suara yang mewakili banyak kegelisahan. Dengan nada tegas tapi tetap santun, ia mengungkapkan harapan agar P3 Situbondo ke depan dapat tampil lebih solid dan kembali dipercaya publik.

“Harapan saya, P3 ke depannya bisa semakin besar, semakin maju, dan menjadi partai yang amanah dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat,” ujarnya.

Bagi Andi, kecintaan kepada P3 bukanlah persoalan sekadar pilihan politik, melainkan persoalan nilai. Ia mengaku tumbuh dalam lingkungan yang erat dengan pengaruh almarhum K.H.R. Ahmad Fawaid As’ad, sosok yang menurutnya memiliki peran besar dalam memperkuat P3 di Situbondo. Kiai Fawaid, dalam pandangan banyak pihak, bukan sekadar pimpinan spiritual tetapi juga figur yang membangun jejaring sosial-politik di akar rumput, terutama di wilayah-wilayah strategis yang kini menjadi basis kuat P3.

Baca Juga:
Kota Madiun Gencarkan Kampanye Antikorupsi: "Lawan Korupsi, Sekecil Apa Pun Itu!"

“Bagi saya, P3 adalah amanah untuk meneruskan perjuangan guru kami. Itulah alasan saya mencintai P3,” kata Andi, menegaskan keyakinannya.

Kritik kepada Oknum, Bukan Lembaga

Di tengah apresiasinya terhadap perjalanan partai, Andi tidak menutup mata terhadap persoalan yang kerap muncul dari ulah oknum dalam tubuh P3. Ia menilai, setiap organisasi tentu tidak luput dari kekhilafan individu. Namun kesalahan itu harus ditangani secara pribadi, bukan dengan menyerang simbol-simbol kolektif partai.

“Manusia tidak lepas dari salah. Jika ada kader yang berbuat keliru, datangi orangnya, bukan kantornya,” ujarnya.

“Kalau ada pihak luar yang menginjak atau mendemo kantor DPC, saya tidak terima,” ucapnya dengan nada lebih keras.

Baginya, kantor P3 bukanlah sekadar bangunan. Di tempat itu, menurutnya, jejak perjuangan guru, kiai, dan kader sepuh terukir. Ia menyebut dua simbol penting perjuangan: kantor P3 sebagai rumah besar perjuangan politik, dan Sukorejo sebagai pusat perjuangan spiritual yang dibangun oleh kiai.

“Kantor P3 adalah rumah besar perjuangan guru kami dalam dunia politik. Siapa pun yang merusak kantor P3, saya akan berdiri paling depan untuk melawan,” tegasnya.

Ungkapan itu menandakan bahwa bagi para kader dan simpatisan, mempertahankan harkat partai bukan hanya soal loyalitas struktural, tetapi juga soal menjaga kehormatan sejarah.

Menjaga Jejak Para Pejuang P3

P3
Photo: Azis Chemoth Militan P3

Selain Andi, suara penting lainnya datang dari Azis Chemoth. Pria asal Tanjung Sari Timur, Kecamatan Mangaran, itu dikenal sebagai militan yang telah bersama P3 sejak era kepemimpinan almarhum K.H.R. Ahmad Fawaid As’ad. Pengabdiannya yang panjang membuatnya memahami betul bagaimana partai ini tumbuh dan berjuang dari masa ke masa.

Azis Chemoth menyoroti satu hal yang menurutnya kian memudar: penghormatan kepada para tokoh yang telah mengorbankan banyak hal untuk membesarkan P3.

Baca Juga:
Azis Chemoth: Untung Masih Ada Wartawan dan LSM, Kalau Nggak, Siapa Lagi yang Jaga Situbondo?

“Para pejuang PPP dulu telah berkorban jiwa raga,” ujarnya membuka pernyataan, sebelum menyebut salah satu tokoh yang menurutnya pantas mendapat perhatian lebih.

Nama itu adalah almarhum Kasmoto, kader asal Desa Wonokoyo, Kecamatan Kapongan, yang menurut Azis Chemoth memiliki peran besar dalam menjaga kekuatan P3 di masa lalu. Kasmoto dikenal sebagai kader lapangan yang loyal, siap siaga kapan pun diperlukan, dan tidak pernah mundur dalam situasi sulit.

“Salah satunya almarhum Kasmoto. Walaupun beliau telah tiada, saya berharap ada haul untuk mengenang jasanya dan ada perhatian kepada keturunan beliau,” ucap Azis Chemoth

Pernyataan Azis Chemoth tidak hanya soal penghormatan kepada individu, tetapi lebih jauh menyentuh aspek moralitas politik yang kini kerap terabaikan. Ia menegaskan bahwa sejarah partai adalah aset strategis. Mengabaikannya sama halnya dengan melemahkan pondasi ideologis partai sendiri.

Azis Chemoth menyebut bahwa P3 Situbondo tidak boleh melupakan para pendahulu yang telah menjadi “penopang sunyi” perjalanan politik partai selama puluhan tahun. Menurutnya, regenerasi partai tanpa penghormatan terhadap nilai dan sejarah akan membuat kader-kader baru tumbuh tanpa akar.

“Sejarah dan pengorbanan para kader terdahulu adalah fondasi yang harus diteruskan generasi saat ini,” katanya.

Menghidupkan Kembali Ruh Perjuangan

Jika dirangkum, suara-suara dalam pertemuan tersebut menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar aspirasi. Mereka menggambarkan sebuah dinamika internal: harapan agar P3 tidak kehilangan jati diri, tuntutan agar pengurus memperbaiki disiplin kader, dan tekad untuk memastikan perjuangan para pendahulu tetap menjadi kompas arah gerak partai.

Mereka menilai P3 memiliki peluang untuk bangkit kembali di tengah kompetisi politik lokal. Namun peluang itu hanya akan menjadi kenyataan jika pengurus memiliki keberanian untuk belajar dari sejarah dan memperbaiki kelemahan internal.

Baca Juga:
Pagelaran Budaya Tosan Aji Nusantara 2025 Siap Digelar di Surabaya

Silaturahmi yang dimulai dengan percakapan santai akhirnya berubah menjadi forum refleksi perjalanan partai. Mereka pulang dengan harapan agar suara mereka tidak berhenti sebagai catatan pertemuan, tetapi menjadi dorongan nyata bagi penguatan P3 Situbondo.

Di tengah dinamika politik yang terus berubah, suara para simpatisan dan militan ini menunjukkan satu hal: bahwa loyalitas sejati selalu datang bersama tanggung jawab untuk mengingatkan, menjaga, dan merawat apa yang dianggap berharga.

Dan bagi mereka, P3 adalah salah satunya.

https://Saromben.com