Surabaya – Tim tidak runtuh saat gagal. Tim runtuh ketika kepercayaan di dalamnya mulai retak dan itu justru paling sering terjadi saat keadaan tidak ideal. Dalam tekanan, kelelahan, dan ketidakpastian, topeng kekompakan perlahan luruh, menyisakan satu pertanyaan mendasar: siapa yang benar-benar tetap hadir?
Pertanyaan itulah yang secara nyata diuji dalam leadership camp yang diselenggarakan oleh YDSF di STIESIA Surabaya. Bukan sekadar forum pelatihan, kegiatan ini menjelma menjadi laboratorium karakter tempat nilai kepemimpinan diuji, bukan hanya diajarkan.
Dipandu oleh Darwis Darmadji Harsono, para peserta tidak diberi ruang untuk sekadar memahami teori. Mereka dipaksa masuk ke dalam situasi yang menuntut respons nyata, spontan, dan jujur.

Ketika Permainan Sederhana Menjadi Ujian Mental
Ruangan itu awalnya dipenuhi optimisme. Tawa ringan, diskusi santai, dan keyakinan bahwa tantangan yang diberikan akan mudah diselesaikan. Setiap tim menerima potongan-potongan kertas acak dengan satu instruksi sederhana: susun kembali menjadi bentuk utuh kertas A4.
Namun, kesederhanaan itu hanya ilusi.
Menit-menit awal berjalan cepat. Potongan demi potongan dicocokkan. Beberapa tampak menjanjikan, namun tak sedikit yang justru menyesatkan. Waktu terus berjalan, dan tanpa disadari, dinamika mulai berubah.
Nada suara meninggi. Diskusi berubah menjadi perdebatan kecil. Beberapa peserta mulai terdiam, mencoba berpikir ulang. Yang lain mulai menunjukkan tanda-tanda frustrasi. Pola yang sebelumnya diyakini benar, ternyata buntu.
Waktu istirahat tiba.
Namun bagi sebagian tim, termasuk salah satu yang paling gigih, tidak ada jeda. Susunan kertas masih jauh dari sempurna. Dan aturan yang diberlakukan membuat situasi semakin menekan: tidak diperkenankan makan sebelum tugas terselesaikan.
Lapar mulai terasa. Energi menurun. Keluhan muncul meski banyak yang hanya berani menyimpannya dalam hati.

“Ini serius tidak boleh makan dulu?” gumam pelan salah satu peserta, setengah bercanda, setengah pasrah.
Namun justru di titik itu, sesuatu yang berbeda muncul.
Tidak ada yang benar-benar menyerah. Tidak ada yang meninggalkan lingkaran. Satu per satu tetap bertahan. Ada yang mencoba ulang dari awal, ada yang mengamati dalam diam, ada yang terus menyemangati.
Dan perlahan, di tengah kelelahan, pola itu mulai terbaca.
Potongan demi potongan kembali menemukan tempatnya.
Hingga akhirnya utuh.
Bukan sekadar kertas yang tersusun, tetapi sebuah fondasi kepercayaan yang terbangun dalam diam.

Cermin dari Medan Ramadhan
Apa yang terjadi dalam ruangan itu bukan sekadar simulasi. Ia adalah refleksi nyata dari dinamika yang sebelumnya telah dihadapi peserta di lapangan khususnya dalam momentum penghimpunan dana selama bulan Ramadhan.
Saat itu, target yang ditetapkan tidak biasa. Angka yang tinggi, waktu yang terbatas, dan ekspektasi yang besar menjadi kombinasi tekanan yang tidak ringan. Di beberapa titik, rasa ragu bahkan sempat muncul.
“Apakah ini realistis?” menjadi pertanyaan yang tidak terucap, tetapi terasa di banyak lini.
Namun, lagi-lagi, faktor pembeda bukan pada strategi semata melainkan pada kehadiran.
Pimpinan tidak memilih berada di balik meja. Mereka turun langsung ke cabang-cabang, menyapa, mendengar, dan menguatkan. Bukan hanya memberi arahan, tetapi memastikan setiap individu merasa ditemani dalam perjuangan.
Direksi pun mengambil peran serupa. Kehadiran mereka di lapangan menjadi sinyal kuat bahwa target besar bukan beban sepihak, melainkan tanggung jawab kolektif.
Efeknya terasa.
Energi tim berubah. Keraguan perlahan tergantikan oleh keyakinan. Upaya yang sebelumnya terasa berat mulai dijalani dengan semangat baru.
Dan hasilnya melampaui prediksi.
Penghimpunan yang ditargetkan tinggi justru berhasil menembus hampir 200 persen dari target awal. Jika diasumsikan target awal berada pada angka 100, maka realisasi mendekati 200 sebuah lonjakan signifikan yang tidak hanya mencerminkan keberhasilan strategi, tetapi juga kekuatan solidaritas tim.
Dampaknya pun nyata: jumlah penerima manfaat meningkat drastis, memperluas jangkauan kebaikan yang dihasilkan.

Definisi Kepercayaan yang Tidak Bisa Dipalsukan
Dalam sesi refleksi, Abi Darwis menyampaikan satu kalimat yang menjadi inti dari seluruh pengalaman tersebut:
“Kepercayaan dalam tim bukan dibangun saat semua mudah, tapi saat satu sama lain tetap hadir ketika sulit.”
Kalimat itu sederhana, namun dalam.
Kepercayaan bukan hasil dari momen nyaman. Ia tidak lahir dari rapat yang lancar atau target yang tercapai tanpa hambatan. Kepercayaan justru terbentuk saat tim berada di ambang menyerah dan tetap memilih bertahan bersama.
Dalam dunia organisasi modern, banyak tim tampak solid di permukaan. Namun ketika tekanan datang, retakan kecil bisa dengan cepat membesar. Sebaliknya, tim yang pernah melalui kesulitan bersama cenderung memiliki daya tahan yang jauh lebih kuat.
Lebih dari Sekadar Pelatihan
Leadership camp ini pada akhirnya bukan hanya tentang membentuk pemimpin, tetapi membentuk manusia yang mampu dipercaya dan mau mempercayai.
Dari potongan kertas yang tampak remeh hingga tekanan target yang nyata di lapangan, satu hal menjadi jelas: kekompakan sejati tidak diuji saat semua berjalan baik, tetapi saat keadaan hampir runtuh.
Dan dari Surabaya, sebuah pelajaran penting mengemuka bahwa dalam dunia yang penuh tekanan dan ketidakpastian, kepercayaan bukan sekadar nilai tambahan. Ia adalah fondasi utama.
Tanpanya, tim hanya sekumpulan individu.
Dengannya, bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun, mereka tetap utuh.












