Berita  

YDSF Salurkan Bantuan Pangan bagi Warga Terdampak Banjir di Besuki–Situbondo

Redaksi

SITUBONDO |Saromben.com –  Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, dalam beberapa hari terakhir berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat. Curah hujan tinggi yang mengguyur kawasan hulu menyebabkan luapan sungai dan genangan air di permukiman warga, khususnya di wilayah Besuki dan sekitarnya. Akibatnya, aktivitas masyarakat terganggu dan kebutuhan dasar, terutama pangan, menjadi persoalan mendesak.

Merespons kondisi tersebut, Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) bergerak cepat menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga terdampak banjir. Penyaluran bantuan dilakukan pada Jumat, 23 Januari 2026, sebagai bagian dari upaya tanggap darurat untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah situasi krisis.

Aksi kemanusiaan ini difokuskan pada pemenuhan kebutuhan pangan bagi para penyintas banjir. YDSF melakukan dropping bantuan logistik ke dapur umum milik Pemerintah Daerah yang menjadi pusat utama pengolahan makanan bagi warga terdampak. Dapur umum tersebut berperan vital karena menjadi tumpuan ribuan warga yang tidak dapat memasak secara mandiri akibat keterbatasan fasilitas dan kondisi lingkungan pascabanjir.

Bantuan

Bantuan yang disalurkan YDSF meliputi berbagai kebutuhan pokok, di antaranya beras, minyak goreng, air minum dalam kemasan (AMDK), serta pakaian layak pakai. Seluruh bantuan tersebut diperuntukkan bagi warga terdampak banjir, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan perempuan, yang membutuhkan perhatian khusus dalam situasi darurat.

Selain menyalurkan logistik, tim relawan YDSF juga terjun langsung ke lapangan untuk membantu proses pendistribusian makanan siap saji. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 4.000 bungkus nasi berhasil dibagikan kepada warga terdampak banjir di berbagai titik rawan.

Wilayah penyaluran bantuan meliputi Kalianget, Kalimas, Pesisir, Lubawang, Rawan, Kota Timur, Jetis, Bloro, hingga Demung. Kawasan-kawasan tersebut diketahui mengalami genangan cukup tinggi yang menyebabkan aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat terhenti sementara. Sebagian warga terpaksa membatasi mobilitas, sementara akses terhadap bahan pangan menjadi terbatas.

Baca Juga:
“Go To School: Kak Jaka dan Tim UDS Inspirasi Anak Sekolah di Situbondo”

Bantuan

Distribusi nasi bungkus dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat kerawanan dan jumlah warga terdampak di masing-masing wilayah. Relawan YDSF berkoordinasi dengan aparat setempat, pengelola dapur umum, serta relawan lokal agar penyaluran bantuan dapat berjalan tertib, aman, dan tepat sasaran.

Dalam kondisi darurat bencana, keberadaan makanan siap santap menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Bantuan nasi bungkus dinilai efektif sebagai solusi cepat untuk memastikan warga tetap mendapatkan asupan makanan yang layak, terutama pada fase awal banjir ketika warga belum dapat kembali beraktivitas secara normal.

Perwakilan YDSF Romi Anasrullah menyampaikan bahwa fokus utama bantuan kali ini adalah pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat terdampak. Menurutnya, dalam setiap respons bencana, kebutuhan dasar seperti makanan dan air bersih harus menjadi prioritas sebelum memasuki tahap pemulihan.

Bantuan
Photo: Romi Perwakilan Ydsf Situbondo

“Kami berupaya hadir secepat mungkin untuk membantu warga, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Koordinasi dengan pemerintah daerah kami lakukan agar bantuan dapat tersalurkan secara efektif dan menjangkau warga yang benar-benar membutuhkan,” ujar perwakilan YDSF.

Sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga kemanusiaan dinilai menjadi faktor kunci dalam penanganan bencana. Kolaborasi tersebut memungkinkan distribusi bantuan berjalan lebih cepat dan merata, sekaligus menghindari tumpang tindih penyaluran di lapangan.

Banjir yang melanda Situbondo tidak hanya berdampak pada sektor permukiman, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat. Sejumlah warga tidak dapat bekerja seperti biasa, sementara pelaku usaha kecil terpaksa menghentikan kegiatan usahanya untuk sementara waktu. Kondisi tersebut membuat kebutuhan bantuan pangan menjadi semakin mendesak.

Bantuan

Dalam konteks tersebut, kehadiran lembaga sosial seperti YDSF dinilai sangat membantu. Tidak hanya sebagai penyalur bantuan, tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah dalam memastikan penanganan bencana berjalan secara komprehensif dan berkelanjutan.

Baca Juga:
DPD Garda RI Jatim Tekankan HUT Kemerdekaan ke-80 Harus Jadi Titik Balik Perubahan Indonesia

Aksi kemanusiaan ini menegaskan komitmen YDSF dalam merespons bencana alam di berbagai daerah di Indonesia. Selama ini, YDSF dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, mulai dari bantuan bencana alam, program pendidikan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Melalui keterlibatan langsung di lapangan, YDSF berupaya meringankan beban masyarakat terdampak sekaligus memperkuat solidaritas sosial. Kehadiran relawan di tengah warga terdampak banjir juga memberikan dukungan moral bagi masyarakat yang tengah menghadapi situasi sulit.

Bantuan

YDSF menilai bahwa penanganan bencana tidak hanya membutuhkan bantuan material, tetapi juga kepedulian dan kebersamaan. Oleh karena itu, YDSF terus mengajak masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan, baik melalui donasi, dukungan moral, maupun keterlibatan langsung sebagai relawan.

Bencana alam, menurut YDSF, merupakan tantangan bersama yang memerlukan respons kolektif. Dengan semangat gotong royong, diharapkan masyarakat terdampak dapat melewati masa darurat dan secara bertahap memulihkan kembali kehidupan mereka.

Ke depan, YDSF akan terus memantau perkembangan situasi di lapangan dan menyesuaikan bentuk bantuan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jika diperlukan, YDSF juga siap mendukung fase pemulihan pascabanjir, baik melalui bantuan lanjutan maupun program pendampingan sosial.

Dengan dukungan berbagai pihak dan solidaritas masyarakat, YDSF optimistis warga Situbondo dapat bangkit dari dampak banjir. Bantuan yang disalurkan diharapkan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga menjadi simbol kepedulian dan kebersamaan di tengah musibah.