Di Bawah Langit Gelap Trebungan: Ketika Negara Redup, Nurani Warga Menyalakan Cahaya

SITUBONDO – Malam di Desa Trebungan, Kecamatan Mangaran, seharusnya berjalan seperti biasa: sunyi, sederhana, dan nyaris tak tercatat dalam peta perhatian publik. Namun Sabtu (2/5/2026), keheningan itu pecah oleh langkah-langkah kecil yang membawa makna besar. Bukan oleh pejabat negara, bukan pula oleh program besar beranggaran miliaran, melainkan oleh sekelompok warga yang memilih untuk tidak menutup mata.

Di bawah kepemimpinan Haji Ismail, Pokdar Kamtibmas Bhayangkara Polres Situbondo kembali menunjukkan bahwa keamanan sosial tidak selalu berbicara tentang patroli dan penegakan hukum. Ada dimensi lain yang lebih sunyi namun mendasar: memastikan manusia tetap hidup dengan layak.

Informasi itu datang sederhana bahkan nyaris seperti “bisikan kecil” di antara lalu lintas kabar harian. Seorang anggota melaporkan kondisi sebuah keluarga di Desa Trebungan yang hidup dalam keterbatasan ekstrem. Tanpa rapat panjang, tanpa prosedur berlapis, keputusan diambil dalam hitungan jam: mereka berangkat malam itu juga.

Ketika rombongan tiba, realitas yang tersaji jauh melampaui laporan singkat yang diterima. Sebuah rumah berdiri dalam kondisi yang sulit disebut layak. Dindingnya rapuh, strukturnya renta, dan yang paling mencolok: ketiadaan cahaya listrik. Di tengah zaman yang serba terang oleh teknologi, rumah itu justru tenggelam dalam gelap yang literal.

Di sanalah Askim bertahan hidup, bersama dua anaknya. Sejak kepergian sang istri, ia memikul beban sebagai orang tua tunggal dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas. Hari-harinya bukan hanya soal bertahan, tetapi juga tentang menunda banyak hal yang seharusnya menjadi hak dasar: tempat tinggal layak, rasa aman, dan masa depan anak-anaknya.

Namun di tengah keterbatasan itu, ada satu hal yang tidak ikut runtuh harapan.

Ayu, putri Askim, menyimpan mimpi yang bagi sebagian orang mungkin terdengar biasa: melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tetapi dalam konteks hidupnya, mimpi itu menjelma menjadi sesuatu yang nyaris utopis. Tanpa listrik, tanpa fasilitas belajar yang memadai, dan dengan tekanan ekonomi yang konstan, keinginan untuk kuliah bukan hanya soal ambisi, tetapi juga keberanian melawan realitas.

Baca Juga:
IGTKI Kecamatan Mangaran Meriahkan HUT RI ke-80 Tahun 2025

Di titik inilah empati menemukan bentuknya.

Haji Ismail tidak datang sebagai simbol, tetapi sebagai eksekutor. Ia tidak berhenti pada ungkapan keprihatinan. Malam itu juga, ia mengarahkan anggotanya untuk langsung melakukan pengukuran terhadap rumah Askim sebuah langkah teknis yang menandai dimulainya proses perubahan.

“Rumah ini tidak bisa dibiarkan seperti ini. Ini bukan sekadar bangunan, ini soal martabat hidup,” ujarnya tegas di lokasi.

Kalimat itu bukan retorika kosong. Ia mencerminkan cara pandang yang menempatkan persoalan kemiskinan bukan sebagai angka statistik, tetapi sebagai realitas konkret yang harus dijawab dengan tindakan.

Yang lebih mengejutkan adalah fakta bahwa rumah tersebut belum memiliki akses listrik. Dalam lanskap Indonesia yang terus berbicara tentang transformasi digital, keberadaan rumah tanpa penerangan listrik menjadi ironi yang sulit diabaikan.

“Saya akan upayakan juga soal listriknya. Jujur, ini membuat saya heran di zaman sekarang masih ada yang hidup tanpa lampu,” lanjut Haji Ismail.

Trebungan

Pernyataan itu mengandung dua lapis makna: keprihatinan personal dan kritik implisit terhadap distribusi pembangunan yang belum merata. Di satu sisi, Indonesia melangkah cepat menuju modernitas; di sisi lain, masih ada ruang-ruang gelap yang luput dari jangkauan.

Langkah yang diambil Pokdar Kamtibmas malam itu menjadi menarik karena melampaui fungsi formalnya. Sebagai organisasi yang selama ini dikenal sebagai mitra kepolisian dalam menjaga ketertiban, mereka justru tampil sebagai aktor sosial yang mengisi celah-celah yang belum sepenuhnya dijangkau negara.

Tanpa protokol yang rumit, tanpa eksposur berlebihan, mereka bekerja dalam senyap mengukur, merencanakan, dan memastikan bahwa intervensi yang dilakukan bersifat nyata.

Bagi Askim, kehadiran itu bukan sekadar bantuan. Ia adalah validasi bahwa dirinya masih terlihat di tengah sistem yang sering kali abai. Rasa syukur yang disampaikannya tidak berlebihan, tetapi cukup untuk menggambarkan betapa besar arti perhatian tersebut.

Baca Juga:
Dini Hari yang Mencekam di Panarukan: Bocah 5 Tahun Hilang, Pencarian Masih Berlangsung Tanpa Henti

“Terima kasih banyak. Kami tidak menyangka ada yang datang dan peduli seperti ini,” ucapnya lirih.

Ayu, di sisi lain, mungkin belum sepenuhnya melihat bagaimana masa depannya akan terbentuk. Namun malam itu, satu hal berubah: ia tidak lagi berjalan sendirian. Ada tangan-tangan yang mulai menopang mimpinya, meski jalan menuju perguruan tinggi masih panjang dan penuh tantangan.

Peristiwa di Trebungan ini, jika ditarik lebih luas, membuka pertanyaan mendasar: seberapa banyak “Askim-Askim lain” yang masih hidup dalam kondisi serupa? Dan sejauh mana mekanisme formal mampu menjangkau mereka secara cepat dan tepat?

Dalam konteks itu, apa yang dilakukan oleh Haji Ismail dan jajarannya menjadi lebih dari sekadar aksi sosial. Ia adalah bentuk intervensi mikro yang memiliki implikasi makro bahwa perubahan tidak selalu harus menunggu kebijakan besar, tetapi bisa dimulai dari keberanian untuk merespons hal kecil dengan kesungguhan.

Malam itu, tidak ada sorotan kamera besar, tidak ada panggung, tidak ada seremoni. Hanya ada gelap, dan sekelompok orang yang memilih untuk tidak pergi begitu saja.

Namun justru dari situ, cahaya mulai muncul.

Bukan hanya dari rencana pemasangan listrik yang akan diupayakan, tetapi dari sesuatu yang lebih esensial: kesadaran bahwa di tengah segala keterbatasan, kemanusiaan masih bekerja.

Dan di Desa Trebungan, pada malam yang seharusnya biasa itu, harapan tidak lagi sekadar wacana ia mulai dibangun, diukur, dan diperjuangkan.