Dini Hari yang Mencekam di Panarukan: Bocah 5 Tahun Hilang, Pencarian Masih Berlangsung Tanpa Henti

Situbondo – Kecemasan masih menggantung pekat di udara Dusun Blikeran, Desa Wringin Anom, Kecamatan Panarukan. Di antara gelap yang perlahan memudar, puluhan warga tetap bertahan, menyusuri setiap sudut desa dengan satu harapan yang sama: menemukan Zainal Abidin, bocah 5 tahun yang hilang tanpa jejak.

Waktu menunjukkan pukul 04.22 WIB, Jumat (17/4/2026), ketika Kapokdar Kamtibmas Bhayangkara Polres Situbondo, Haji Ismail, tiba di lokasi. Kehadirannya di tengah kerumunan warga bukan sekadar formalitas, melainkan simbol bahwa kasus ini telah menjadi perhatian serius lintas elemen keamanan dan masyarakat.

Di halaman rumah sederhana milik pasangan Muhammad Zaki (35) dan Erna Andriyana (30), suasana masih dipenuhi kegelisahan. Mata yang sembab, suara yang tertahan, dan langkah yang tak pernah berhenti menjadi potret nyata dari sebuah keluarga yang tengah dilanda kehilangan.

Peristiwa itu bermula sehari sebelumnya, Kamis (16/4/2026) sekitar pukul 15.00 WIB. Saat itu, suasana sore berjalan seperti biasa. Erna keluar rumah untuk mengangkat jemuran pakaian yang telah kering. Zainal, seperti kebiasaan anak seusianya, ikut mendekat dan bermain di sekitar halaman rumah, masih dalam jangkauan pandangan ibunya.

“Dia main di dekat saya, tidak jauh,” tutur Erna, suaranya bergetar menahan tangis.

5

Namun, momen singkat yang tampak sepele itu berubah menjadi titik awal kepanikan. Setelah selesai mengangkat pakaian, Erna masuk ke dalam rumah untuk meletakkan hasil jemuran. Hanya beberapa menit. Tidak lebih. Tetapi ketika ia kembali ke luar, halaman itu sudah kosong.

Zainal menghilang.

Tidak ada suara. Tidak ada tanda. Tidak ada jejak yang jelas.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena Zainal diketahui memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi. Dalam situasi normal sekalipun, ia membutuhkan perhatian ekstra. Apalagi jika berada di lingkungan asing atau menghadapi orang yang tidak dikenalnya.

Baca Juga:
Bhabinkamtibmas Desa Peleyan Teguhkan Peran Humanis Polri: HADIR – BERBUAT – BERMANFAAT di Tengah Denyut Masyarakat

Sejak saat itu, waktu seolah berjalan lebih cepat dari biasanya sementara harapan berpacu dengan ketidakpastian.

Warga sekitar yang pertama mengetahui kejadian itu langsung bergerak. Tanpa komando formal, mereka menyisir lingkungan sekitar, dari halaman rumah, gang-gang sempit, hingga sungai dan titik-titik yang dianggap berpotensi menjadi jalur pergerakan anak tersebut.

Aparat dari Polsek Panarukan turun tangan, disusul personel Satuan Samapta Polres Situbondo yang memperkuat upaya pencarian. Senter, kendaraan patroli, dan koordinasi lapangan menjadi bagian dari operasi darurat yang berlangsung tanpa henti.

Kapolres Situbondo AKBP Bayu Anuwar Sidiqie, S.H., S.I.K., M.Sc., melalui Kapolsek Panarukan AKP Harsono, S.H., membenarkan adanya laporan anak hilang tersebut. Ia menegaskan bahwa pihak kepolisian bergerak cepat sejak laporan diterima.

“Kami langsung melakukan langkah pencarian bersama warga dan mengerahkan personel untuk menyisir berbagai lokasi yang memungkinkan,” ujar AKP Harsono.

Namun, hingga dini hari, hasil masih nihil.

Di lokasi, suasana berubah menjadi campuran antara harap dan cemas. Beberapa warga tampak duduk berkelompok, berdiskusi kecil tentang kemungkinan arah pergerakan Zainal. Yang lain tetap berjalan, menyusuri area yang sama berulang kali, seakan tak ingin melewatkan satu kemungkinan pun.

“Kasihan orang tuanya. Kami semua ikut mencari, semoga segera ditemukan,” ujar salah satu warga dengan nada penuh empati.

5

Kehadiran Haji Ismail selaku Kapokdar Kamtibmas Bhayangkara menjadi dorongan moral tersendiri. Ia tampak berbaur dengan warga, mendengarkan, mengamati, sekaligus memastikan koordinasi berjalan efektif. Dalam situasi seperti ini, kehadiran figur penggerak keamanan komunitas menjadi penting bukan hanya sebagai pengarah, tetapi juga sebagai penguat solidaritas.

Peristiwa ini bukan sekadar kasus kehilangan anak. Ia adalah cermin dari betapa rapuhnya batas antara rutinitas dan tragedi. Dalam hitungan menit, situasi yang semula biasa dapat berubah menjadi krisis yang melibatkan banyak pihak.

Baca Juga:
Gagal Mediasi Utang Piutang, Pria di Situbondo Tempuh Jalur Hukum atas Dugaan Penghinaan

Di sisi lain, tragedi ini juga menyoroti pentingnya pengawasan ekstra terhadap anak-anak, terutama mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Lingkungan yang tampak aman sekalipun tetap menyimpan risiko yang tak selalu terlihat.

Hingga berita ini ditulis, Zainal Abidin masih belum ditemukan. Pencarian terus berlangsung, dengan area yang semakin diperluas dan koordinasi yang terus diperkuat.

Doa dan harapan kini mengalir dari berbagai penjuru. Warga, aparat, hingga keluarga besar korban masih bertahan dalam satu keyakinan: bahwa Zainal akan ditemukan.

Di tengah dinginnya sisa malam dan lelah yang mulai terasa, satu hal tetap menyala di Dusun Blikeran harapan yang belum padam.