Mashudi: Membaca Ketulusan di Balik Wajah Kebaikan Manusia

Photo: Mashudi S.TP., Mantan Ketua Dewan Riset Daerah Situbondo

Di tengah masyarakat yang semakin terbuka namun juga semakin bising oleh pencitraan, kebaikan sering kali hadir dengan wajah yang sulit dibedakan. Ada kebaikan yang lahir dari ketulusan, tumbuh perlahan, dan bertahan lama. Namun ada pula kebaikan yang tampak ramah di permukaan, tetapi sesungguhnya digerakkan oleh kepentingan sesaat.

Pandangan ini disampaikan Mashudi, S.TP., mantan ketua Dewan Riset Daerah Situbondo yang dikenal bekerja secara tenang dan terukur. Dalam sebuah perbincangan eksklusif, Mashudi mengurai pemahamannya tentang perilaku manusia, khususnya dalam konteks berbuat baik. Menurutnya, tidak semua kebaikan berangkat dari niat yang sama, meskipun tampilannya sering kali sulit dibedakan.

“Manusia itu unik. Ada yang berbuat baik karena hatinya memang baik, dan ada yang terlihat baik karena sedang ada keperluan,” ujar Mashudi.

Dua Wajah Kebaikan dalam Kehidupan Sosial

Mashudi menjelaskan bahwa kebaikan yang tulus biasanya tidak menuntut pengakuan. Ia hadir sebagai bagian dari karakter, bukan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Orang yang tulus berbuat baik karena merasa itu memang sudah seharusnya dilakukan.

Sebaliknya, kebaikan yang lahir dari kepentingan cenderung bersifat situasional. Ia muncul ketika ada kebutuhan, lalu memudar saat kebutuhan itu terpenuhi. Mashudi menyebut kebaikan semacam ini sebagai kebaikan transaksional ada hitung-hitungan di balik sikap ramah dan perhatian.

“Kalau keperluannya sudah selesai, biasanya sikapnya juga ikut berubah,” katanya.

Dalam pengalaman Mashudi, banyak relasi sosial yang retak bukan karena konflik besar, melainkan karena kekecewaan kecil yang berulang. Kekecewaan itu muncul saat seseorang menyadari bahwa kebaikan yang diterimanya ternyata tidak tulus.

Ketulusan Tidak Ribut, Tapi Konsisten

Salah satu ciri utama ketulusan, menurut Mashudi, adalah konsistensi. Orang yang tulus tetap sama dalam kondisi apa pun baik saat diuntungkan maupun dirugikan, baik saat diperhatikan maupun diabaikan.

Baca Juga:
YDSF Salurkan Bantuan Sembako Rp8,6 Juta untuk 16 Lansia Dhuafa di Situbondo

“Kebaikan tulus itu tenang. Tidak ribut, tidak heboh, tapi terus ada,” ujarnya.

Ia menambahkan, orang tulus tidak sibuk menceritakan apa yang sudah ia lakukan. Bahkan, sering kali kebaikan itu tidak diketahui banyak orang. Bagi Mashudi, ketulusan justru kehilangan nilainya ketika terlalu sering dipamerkan.

“Begitu kebaikan butuh penonton, di situ biasanya niatnya mulai bergeser,” katanya lugas.

Kepura-puraan dan Risiko Sosial

Mashudi tidak menutup mata bahwa dalam kehidupan sosial, kepura-puraan kerap dianggap sebagai strategi. Ada orang yang membangun citra baik demi diterima, dihormati, atau mendapatkan akses tertentu. Namun menurutnya, strategi semacam ini memiliki risiko jangka panjang.

“Kepura-puraan itu melelahkan. Cepat atau lambat akan terbongkar,” ujarnya.

Ia menilai bahwa orang yang terbiasa berpura-pura baik cenderung sulit menjaga konsistensi. Pada akhirnya, perbedaan antara ucapan dan tindakan akan terlihat, terutama dalam situasi sulit.

Mashudi mengingatkan bahwa orang yang salah membaca karakter bisa terjebak dalam relasi yang tidak sehat. Dalam dunia kerja, kepura-puraan bisa melahirkan konflik laten. Dalam pertemanan, ia bisa berujung pada pengkhianatan. Dalam kepemimpinan, ia berpotensi merusak kepercayaan.

Dan
Photo: Mashudi S.TP., Mantan Ketua Dewan Riset Daerah Situbondo

Perspektif Sarjana Pertanian: Manusia dan Proses

Sebagai Sarjana Pertanian, Mashudi terbiasa melihat segala sesuatu sebagai proses jangka panjang. Ia mengibaratkan manusia seperti tanaman yang tumbuh dari benih.

“Benih yang baik, dirawat dengan benar, akan tumbuh kuat meski pelan. Tapi yang tumbuh cepat karena dipaksa, biasanya rapuh,” katanya.

Dalam konteks ini, ketulusan adalah akar. Ia mungkin tidak terlihat, tetapi menentukan kekuatan. Sementara kepura-puraan adalah daun yang tampak hijau sesaat, namun mudah gugur ketika diterpa masalah.

Menurut Mashudi, cara terbaik menilai manusia adalah dengan mengamati perilaku mereka dalam jangka waktu tertentu. Bukan dari janji, bukan dari pujian, tetapi dari sikap ketika menghadapi tekanan.

Baca Juga:
Diam yang Bekerja Menyelami Kekuatan Hening

“Waktu itu alat seleksi paling jujur,” tegasnya.

Ketulusan dalam Dunia Kerja dan Bisnis

Dalam dunia kerja dan bisnis, Mashudi menilai ketulusan sering kali kalah pamor dibandingkan kepandaian berbicara. Padahal, menurutnya, keberlanjutan usaha justru ditentukan oleh karakter, bukan sekadar retorika.

“Pintar bicara itu penting, tapi pintar bekerja jauh lebih penting,” ujarnya.

Ia mengaku lebih memilih bekerja dengan orang yang sederhana namun konsisten, daripada dengan orang yang tampak cemerlang tetapi sulit dipercaya. Bagi Mashudi, kepercayaan adalah modal yang nilainya jauh lebih besar daripada popularitas.

Ia juga menekankan bahwa bekerja tanpa gaduh bukan berarti pasif. Justru, menurutnya, ketenangan adalah tanda penguasaan diri dan kematangan berpikir.

“Orang yang tulus fokus pada hasil, bukan sorotan,” katanya.

Kepemimpinan: Tegas Tanpa Menyakiti

Dalam konteks kepemimpinan, Mashudi membedakan dengan tegas antara ketegasan dan kekakuan. Pemimpin yang tulus berani bersikap tegas demi kebaikan bersama, bukan demi menunjukkan kuasa.

“Ketegasan itu jelas, adil, dan bertanggung jawab. Kekakuan itu emosional dan sering kali egois,” jelasnya.

Ia menilai pemimpin yang berpura-pura baik cenderung menghindari keputusan sulit demi menjaga citra. Akibatnya, masalah justru berlarut-larut dan merugikan banyak pihak.

Sebaliknya, pemimpin yang tulus mungkin tidak selalu disukai, tetapi keputusannya dapat dipercaya.

Pesan Moral di Tengah Budaya Pencitraan

Mashudi melihat bahwa media sosial dan budaya popularitas ikut mendorong orang untuk tampil baik secara instan. Namun ia mengingatkan bahwa kebaikan yang dibangun di atas pencitraan mudah runtuh ketika diuji.

“Kebaikan sejati tidak butuh panggung,” katanya.

Ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menilai orang lain. Tidak tergesa-gesa mengidolakan, tetapi juga tidak mudah curiga. Menurutnya, keseimbangan antara hati dan nalar sangat penting.

Baca Juga:
Ketika Pertemanan Selalu Diukur dengan Uang

“Yang tulus akan menjaga, bukan memanfaatkan. Yang tulus akan menenangkan, bukan menguras,” ujarnya.

Penutup: Ketulusan sebagai Nilai yang Langka

Di akhir perbincangan, Mashudi menegaskan bahwa ketulusan adalah nilai yang semakin langka, namun justru semakin berharga. Di tengah dunia yang penuh kepentingan, ketulusan menjadi penanda karakter yang sesungguhnya.

“Kita tidak bisa mengontrol niat orang lain, tapi kita bisa menjaga niat kita sendiri,” tutupnya.

Pandangan Mashudi ini menjadi pengingat bahwa dalam kehidupan sosial, tidak semua yang tampak baik benar-benar baik. Ketulusan tidak selalu bersuara keras, tetapi selalu meninggalkan jejak yang panjang.