/kesalahan-menulis-urutan-haul-bukan-pelanggaran-hukum
Kesalahan menulis urutan haul bukan pelanggaran hukum, tetapi berkaitan dengan etika, ketelitian, dan penghormatan terhadap kiai atau pesantren.
Saromben.com –
Dalam tradisi keagamaan dan pesantren, peringatan haul memiliki makna spiritual yang mendalam. Ia bukan sekadar acara tahunan, tetapi wujud penghormatan, doa, dan rasa cinta kepada ulama yang telah wafat. Karena itu, ketepatan dalam menulis urutan haul menjadi hal yang penting untuk dijaga, terutama ketika disampaikan lewat media publik.
Namun, bagaimana bila terjadi kesalahan penulisan~misalnya tertulis haul ke-14, padahal sebenarnya haul ke-13?
Berikut penjelasan lengkap dari sisi hukum dan etika:
1. Dari Sisi Hukum: Tidak Termasuk Pelanggaran
Secara hukum, kesalahan menulis urutan haul tidak termasuk tindak pidana.
Tidak ada pasal hukum yang menjerat kesalahan administratif seperti ini, selama tidak ada unsur fitnah, penghinaan, atau kesengajaan menyesatkan publik.
Namun, bila kesalahan itu dimuat di media massa, baliho, atau kanal publik, sebaiknya dilakukan klarifikasi atau koreksi resmi.
Hal ini penting agar publik tidak salah persepsi dan agar pihak penyelenggara atau media tetap dipercaya masyarakat.
2. Dari Sisi Etika: Menghormati Nilai dan Ketelitian
Urutan haul bukan hanya angka, tetapi juga penanda perjalanan waktu dan sejarah perjuangan seorang kiai.
Kesalahan penulisan bisa dianggap sebagai bentuk kurang teliti atau kurang menghormati momen sakral, terutama bagi keluarga dan santri beliau.
Etika dalam penulisan informasi keagamaan menuntut kehati-hatian dan adab, sebab nama ulama membawa berkah dan teladan bagi umat.
Seperti pesan para guru, “Menjaga nama baik kiai sama artinya menjaga barokah ilmunya.”
3. Pentingnya Klarifikasi dan Edukasi Publik

Jika terjadi kekeliruan, hendaknya pihak terkait segera memberikan klarifikasi dengan bahasa yang santun dan edukatif.
Tujuannya bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk memberikan pemahaman kepada jamaah agar tidak muncul kebingungan atau perbedaan informasi.
4. Penutup
Kesalahan menulis urutan haul memang bukan pelanggaran hukum, tetapi tetap perlu diperhatikan dari sisi etika, ketelitian, dan rasa hormat terhadap tokoh yang diperingati.
Karena itu, marilah kita selalu berhati-hati dalam menyebarkan informasi, apalagi yang menyangkut ulama dan pesantren.
Jangan menambah atau mengurangi, berikan informasi yang benar agar jamaah tidak bingung.













