Pengusaha BALAD Grup Sampaikan Usulan ke Presiden Prabowo: Ganti Ekspor Benih Lobster dengan Lobster 50 Gram
Seorang pengusaha perikanan budidaya asal Surabaya, HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy, mengirimkan surat elektronik (surel) kepada Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto, berisi gagasan pembenahan sistem ekspor lobster nasional.
Dalam surel itu, Khalilur ~ Founder & Owner PT Bandar Laut Dunia Grup (BALAD Grup) sekaligus penulis buku “Prabowo untuk Indonesia Raya” (2014) ~ mengusulkan agar pemerintah menghentikan ekspor Benih Bening Lobster (BBL) dan menggantinya dengan ekspor lobster berukuran 50 gram.

Berikut isi lengkap surel HRM Khalilur kepada Presiden Prabowo Subianto:
Kepada Yth.
Presiden Republik Indonesia
Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto
Di Tempat
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Merdeka!
Salam sejahtera saya sampaikan; semoga Bapak Presiden senantiasa sukses memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi adil, makmur, jaya, dan sentosa di bawah ridho Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa.
Perkenalkan Nama Saya:
HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy
Founder Owner PT. Bandar Laut Dunia Grup – BALAD Grup
Penulis Buku PRABOWO UNTUK INDONESIA RAYA (Cetak 2014)
Saya bangga dan bahagia, sosok yang saya dukung sejak 2014 akhirnya terpilih menjadi Presiden pada 2024. Alhamdulillah.
Bapak Presiden Yang Terhormat,
Saya adalah pengusaha perikanan budidaya. Selama 19 bulan sejak awal 2024 sampai Juli 2025 saya mempelajari budidaya lobster di Vietnam dan sedang berbudidaya lobster di beberapa teluk di Gugusan Teluk Kangean Sumenep, Jawa Timur.
Mohon izin memberikan usulan: budidaya lobster di Vietnam sangat bergantung pada suplai Benih Bening Lobster (BBL) dari Indonesia.
Saya sangat bahagia ketika Bapak Presiden menyetop dan memberhentikan ekspor BBL per 1 Agustus 2025 serta mengambil alih otoritas pengaturan ekspor dari Kepmen KKP No. 7 Tahun 2024 menjadi di bawah PERPRES ~ meskipun PERPRES tersebut belum terbit.
Sehubungan dengan belum terbitnya PERPRES tersebut, perkenankan saya memberikan usulan kepada Bapak Presiden yang terhormat:
1. Stop dan hentikan ekspor BBL dari Republik Indonesia ke Republik Sosialis Vietnam.
2. Gantikan dengan ekspor lobster berat 50 gram per ekor.
Pergantian ekspor BBL menjadi ekspor lobster 50 gram ini akan membuat para pengekspor BBL harus berbudidaya lobster setidaknya selama dua bulan. Kegiatan budidaya selama dua bulan ini akan membuka ratusan ribu lapangan kerja serta menaikkan harga jual lobster.
Jika penjualan BBL berkisar USD 1,5 – 3 per ekor, maka lobster 50 gram bisa dipatok sekitar USD 5 per ekor. Pemerintah RI dapat menetapkan tarif ekspor minimal USD 1 per ekor.
Republik Sosialis Vietnam akan bahagia karena terhindar dari satu fase ganti kulit BBL yang sering menyebabkan kematian akibat kanibalisme atau penyakit.
Ekspornya silakan diatur oleh negara dengan membebaskan siapa pun rakyat Indonesia bisa berjualan tanpa kuota-kuotaan yang ujungnya dimonopoli mafia lobster.
Saya bahagia melihat video Bapak Presiden yang berkata:
“Jangan ada lagi kuota-kuotaan, bebaskan saja siapa pun mengimpor dan mengekspor.”
Pernyataan tersebut sungguh patriotis dan menggetarkan nasionalisme saya. Namun sedihnya, dalam ekspor BBL masih ada kuota-kuotaan.
Sebelum menulis surel ini, beberapa bulan lalu saya berdiskusi dengan pejabat Kementerian MAE Vietnam, dan pada Senin 13 Oktober 2025 pukul 09.00 WIB saya menelpon tiga pejabat yang mengatur impor dan karantina BBL. Mereka bertiga setuju jika ekspor BBL diganti ekspor lobster 50 gram.
Demikian usulan ini saya haturkan, semoga Bapak Presiden berkenan menerimanya. Saya yakin dan percaya, di tangan Bapak Presiden, Republik Indonesia akan berjaya di darat, laut, dan udara.
Mohon dimaafkan jika rakyat biasa seperti saya terlalu lancang mengajukan usulan ini. Saya doakan Bapak Presiden panjang umur dan sukses membawa Indonesia menjadi negara yang dihormati di seluruh dunia.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Merdeka!
Surabaya, Senin 13 Oktober 2025
Kantor Bandar Laut Dunia Grup
Graha Pena Ekstensi
10 Flr
Jl. Ahmad Yani No. 88
Ketintang Gayungan
Surabaya
Jawa Timur
Indonesia
60231
Salam Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy
Founder Owner
Bandar Laut Dunia Grup
Penulis Buku Prabowo Untuk Indonesia Raya.

Usulan Bernilai Strategis
Melalui surel sepanjang itu, Khalilur menegaskan bahwa penggantian ekspor BBL dengan lobster 50 gram akan memberi keuntungan berlipat bagi negara dan rakyat.
Ia menyebut langkah tersebut bisa menaikkan nilai jual lobster lebih dari dua kali lipat, membuka lapangan kerja besar-besaran di sektor budidaya, serta mengurangi angka kematian lobster sebelum ekspor.
Selain itu, Vietnam sebagai mitra dagang utama Indonesia diyakini akan mendapat keuntungan karena menerima produk yang lebih stabil dan berkualitas. Tiga pejabat MAE Vietnam yang ia hubungi bahkan menyatakan dukungan terhadap gagasan tersebut.

Dukungan untuk Kebijakan Presiden
Khalilur memuji langkah Presiden Prabowo yang dinilainya tegas, nasionalis, dan pro-rakyat.
Menurutnya, kebijakan Presiden yang menentang sistem kuota ekspor adalah langkah revolusioner yang harus diterapkan pula pada sektor lobster.
“Jangan ada lagi kuota-kuotaan,” tulisnya, seraya menegaskan pentingnya membuka kesempatan bagi seluruh rakyat tanpa monopoli mafia.
Menuju Kedaulatan Laut Indonesia
BALAD Grup kini tengah mengembangkan proyek budidaya lobster di Gugusan Teluk Kangean, Sumenep, dan siap menjadi mitra pemerintah apabila kebijakan ekspor lobster 50 gram diterapkan.
Khalilur berharap kebijakan baru itu akan memperkuat kedaulatan ekonomi laut Indonesia dan menjadikan bangsa ini produsen lobster terbesar di dunia.
Surat elektronik HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy bukan sekadar aspirasi individu, melainkan suara pelaku usaha pesisir yang menginginkan transformasi nyata di sektor kelautan.
Dengan dukungan riset, pengalaman internasional, dan semangat nasionalisme, ia menawarkan gagasan yang dinilai relevan bagi arah kebijakan maritim Presiden Prabowo Subianto.
Jika usulan itu terealisasi, Indonesia tidak hanya berhenti sebagai pengekspor benih, tetapi naik kelas menjadi produsen lobster bernilai ekspor tinggi, membawa kesejahteraan bagi nelayan serta mengangkat martabat bangsa di mata dunia.













