Ada satu kebiasaan yang jarang kita akui, tetapi hampir semua pernah melakukannya: meremehkan wartawan dan lsm, mereka yang berfungsi mengawasi, lalu panik mencarinya ketika masalah datang. Kita mencibir dengan santai, seolah punya posisi moral yang lebih tinggi. Padahal, dalam banyak kasus, kita hanya sedang menolak diawasi. Bukan karena pengawasan itu salah, melainkan karena ia membuat kita tidak nyaman.
Di warung kopi, mereka dihina.
Di grup WhatsApp, mereka dicaci.
Namun ketika masalah datang tanah hendak diserobot, proyek bermasalah, atau hukum terasa tumpul wartawan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) justru menjadi pihak pertama yang dicari.
Fenomena ini bukan peristiwa insidental. Ia telah menjadi kebiasaan sosial, bahkan bisa disebut budaya. Ironis, tetapi sekaligus lucu. Kita hidup dalam masyarakat yang gemar meremehkan peran kontrol, namun panik ketika kontrol itu benar-benar dibutuhkan.

Di negeri ini, wartawan dan LSM menempati posisi yang unik sekaligus paradoksal. Mereka sering dianggap mengganggu, merepotkan, dan penuh kepentingan. Tuduhan-tuduhan itu berseliweran nyaris setiap hari. “Wartawan cuma cari sensasi.” “LSM itu hanya hidup dari proyek.” Kalimat-kalimat semacam ini diucapkan dengan ringan, seolah sudah menjadi kebenaran umum yang tak perlu diuji.
Namun anehnya, ketika seseorang berhadapan dengan ketidakadilan, nama-nama yang pertama kali terlintas justru wartawan dan LSM. Nomor kontak dicari, pesan dikirim berkali-kali, bahkan disertai harapan besar: “Tolong viralkan,” atau “Tolong dampingi kami.” Mereka yang kemarin dicela, hari ini diposisikan sebagai penyelamat.
Ironi ini memperlihatkan satu hal penting: kita tidak benar-benar membenci wartawan dan LSM. Yang kita benci adalah ketika mereka berdiri di luar kendali kita ketika mereka bertanya terlalu jauh, menulis terlalu jujur, atau menggugat sesuatu yang selama ini kita anggap normal.

Citra buruk terhadap wartawan dan LSM memang tidak lahir dari ruang hampa. Ia sering kali dipupuk oleh perilaku oknum. Ada wartawan yang malas melakukan verifikasi, lebih tergoda judul sensasional ketimbang akurasi. Ada pula LSM yang hanya muncul saat ada peluang anggaran, tetapi menghilang ketika kerja advokasi membutuhkan konsistensi dan keberanian.
Namun, berhenti pada narasi “oknum” saja adalah bentuk kemalasan berpikir. Karena masyarakat sendiri kerap bersikap tidak adil. Wartawan dipuja ketika membongkar korupsi pihak lain, tetapi dimusuhi ketika pemberitaan menyentuh lingkungan terdekat. LSM dielu-elukan saat membela petani, namun dicap penghambat pembangunan ketika menggugat proyek yang memberi lapangan pekerjaan bagi sebagian warga.
Di titik ini, relasi antara masyarakat, wartawan, dan LSM berubah menjadi hubungan transaksional. Selama kepentingan sejalan, mereka dianggap pahlawan. Begitu kepentingan bersinggungan, mereka berubah menjadi musuh. Prinsip dikalahkan oleh kenyamanan, dan etika kalah oleh rasa aman semu.

Tak heran jika saling tuding pun menjadi pemandangan biasa. Wartawan menuding masyarakat munafik. LSM menilai warga hanya peduli jika perutnya lapar. Sementara masyarakat balik menuding wartawan dan LSM tak ubahnya pedagang isu bekerja jika ada uang, berhenti jika tak menguntungkan.
Semua tudingan itu mengandung sebagian kebenaran. Tetapi juga menyimpan kepalsuan besar: seolah-olah satu pihak sepenuhnya bersih, sementara pihak lain sepenuhnya kotor.
Faktanya, di setiap kelompok selalu ada oknum dan selalu ada orang-orang yang bekerja dengan integritas. Hanya saja, yang buruk lebih cepat viral. Yang baik jarang mendapat ruang. Wartawan yang bekerja senyap menjaga etika tak pernah jadi bahan obrolan warung kopi. LSM yang konsisten mendampingi warga bertahun-tahun tanpa sorotan kamera nyaris tak dikenal.

Budaya kita lebih gemar mengutuk daripada merawat. Lebih suka menyalahkan daripada berbenah. Kita menikmati kritik selama kritik itu diarahkan ke luar, bukan ke dalam. Kita menyebut diri kritis, tetapi alergi ketika kritik berbalik ke arah kita.
Pada akhirnya, wartawan, LSM, dan masyarakat adalah aktor dalam panggung yang sama. Kita saling memantau, saling mencurigai, dan sering kali saling memanfaatkan. Perbedaannya hanya pada posisi berdiri, bukan pada kecenderungan manusiawinya.
Maka sebelum kembali mencibir di warung kopi atau menuliskan cercaan di grup WhatsApp, barangkali ada baiknya kita berhenti sejenak. Mengangkat cermin, menatap wajah sendiri. Bertanya dengan jujur: apakah kebencian kita lahir dari prinsip, atau hanya dari rasa tidak nyaman ketika diawasi?
Siapa tahu, orang yang selama ini kita benci wartawan atau LSM sebenarnya hanya memantulkan watak kita sendiri. Dan dalam demokrasi, pantulan itulah yang sering paling kita hindari, sekaligus paling kita butuhkan.













