Ketika Ego Mengalahkan Etika: Ilusi “Paling Pintar” dalam Dunia Kewartawanan
Dunia kewartawanan sejatinya dibangun di atas fondasi integritas, kerja kolektif, dan kesadaran bahwa informasi adalah hak publik. Wartawan hadir sebagai penjaga akal sehat di tengah arus informasi yang kerap keruh, sebagai jembatan antara fakta dan masyarakat. Namun di balik idealisme itu, dunia jurnalistik tidak sepenuhnya steril dari persoalan klasik manusia: ego.
Salah satu fenomena yang kerap muncul meski jarang dibicarakan secara terbuka adalah wartawan yang merasa dirinya lebih pintar, lebih tahu, dan lebih unggul dibanding rekan seprofesinya. Ia merasa liputannya paling eksklusif, analisanya paling tajam, atau jejaringnya paling luas. Kepercayaan diri tentu bukan dosa. Bahkan, dalam profesi yang menuntut keberanian bertanya dan ketajaman membaca situasi, rasa percaya diri adalah modal penting. Masalah muncul ketika kepercayaan diri berubah menjadi kesombongan, dan kesombongan menjelma sikap merendahkan orang lain.
Dalam konteks itu, ego tidak lagi menjadi pendorong kualitas, melainkan perusak solidaritas. Wartawan yang terjebak dalam ilusi “paling pintar” sering kali lupa bahwa jurnalisme bukanlah arena adu kecerdasan personal, melainkan kerja kolektif yang bertujuan melayani kepentingan publik. Ketika ego mengambil alih, yang lahir bukan kolaborasi, tetapi kompetisi sempit yang miskin etika.
Ironisnya, profesi wartawan justru menuntut kebalikan dari sikap tersebut. Jurnalisme meniscayakan kerendahan hati intelektual. Setiap liputan adalah proses belajar, setiap peristiwa adalah ruang tafsir yang selalu terbuka untuk dikoreksi. Tidak ada kebenaran tunggal yang dimonopoli satu wartawan, satu media, atau satu sudut pandang. Fakta sosial selalu kompleks, dan realitas terus bergerak. Wartawan yang merasa sudah “paling tahu” sesungguhnya sedang menutup pintu pembelajaran bagi dirinya sendiri.
Fenomena “rasa paling pintar” ini semakin kentara di era digital. Media sosial telah mengubah sebagian wartawan dari pengolah informasi menjadi etalase personal. Analisis ditampilkan bukan lagi untuk memperkaya pemahaman publik, melainkan untuk menunjukkan keunggulan diri. Akses narasumber dipamerkan sebagai simbol status, bukan sebagai amanah jurnalistik. Kritik disampaikan dengan nada merendahkan, seolah perbedaan sudut pandang adalah bukti kebodohan pihak lain.
Akibatnya, publik tidak lagi melihat wartawan sebagai komunitas profesional yang solid, melainkan sebagai kelompok yang saling bersaing menunjukkan siapa paling cerdas. Ini berbahaya. Ketika publik menyaksikan perpecahan, sindiran, dan saling meremehkan di antara wartawan, kepercayaan terhadap media pun perlahan terkikis. Padahal, kepercayaan adalah mata uang paling mahal dalam dunia jurnalistik.
Lebih jauh, sikap merasa paling pintar sering kali berbanding terbalik dengan kualitas etika. Wartawan yang sibuk mengukuhkan superioritas intelektualnya kerap abai pada prinsip dasar: verifikasi, keberimbangan, dan empati. Ia lebih tertarik menjadi komentator ulung ketimbang pendengar yang baik. Padahal, banyak kebenaran justru lahir dari kesediaan mendengar termasuk mendengar kritik dari sesama wartawan.

Dalam sejarah jurnalisme, tokoh-tokoh besar bukan dikenang karena merasa paling pintar, melainkan karena konsistensi moral dan keberanian memperjuangkan kebenaran. Mereka bekerja dalam senyap, membiarkan karya berbicara, dan menjadikan profesi sebagai pengabdian, bukan panggung ego. Kecerdasan mereka tidak ditunjukkan dengan merendahkan orang lain, tetapi dengan ketekunan menjaga standar.
Penting disadari, wartawan datang dari latar belakang yang beragam: pendidikan, pengalaman, gaya menulis, hingga medan liputan. Ada yang kuat di laporan investigasi, ada yang tajam di feature humanis, ada pula yang piawai mengolah data. Keragaman ini bukan alasan untuk merasa lebih unggul, melainkan kekayaan yang seharusnya saling melengkapi. Jurnalisme yang sehat tumbuh dari saling menghargai perbedaan kompetensi, bukan dari klaim superioritas.
Pada titik inilah, refleksi menjadi penting. Dunia kewartawanan adalah ruang belajar tanpa garis akhir. Tidak ada wartawan paling pintar, karena kebenaran tidak pernah final. Yang ada hanyalah wartawan yang mau terus belajar dan wartawan yang berhenti belajar karena merasa sudah tahu segalanya. Pilihan sikap inilah yang menentukan kualitas seorang jurnalis.
Wartawan sejatinya adalah jembatan informasi. Jika jembatan itu retak oleh ego, aliran informasi akan terganggu. Fakta bisa terdistorsi, diskursus publik menjadi bising, dan tujuan utama jurnalisme melayani kepentingan publik terpinggirkan. Sebaliknya, ketika wartawan mampu menahan ego, membuka ruang dialog, dan saling menguatkan, kualitas jurnalistik akan naik secara kolektif.
Maka, ketika ada wartawan yang merasa lebih pintar dari wartawan lainnya, sesungguhnya ia sedang menipu dirinya sendiri. Kecerdasan dalam dunia jurnalistik bukan diukur dari seberapa rumit bahasa yang digunakan atau seberapa tinggi nada bicara, melainkan dari seberapa jujur ia pada fakta, seberapa setia ia pada etika, dan seberapa tulus ia memperjuangkan kebenaran.
Pada akhirnya, jurnalisme tidak membutuhkan wartawan yang paling pintar, tetapi wartawan yang paling bertanggung jawab. Bukan yang paling lantang memamerkan kecerdasan, melainkan yang paling konsisten menjaga nurani. Di situlah martabat profesi ini dipertaruhkan.













