Situbondo ~ Kegiatan penanaman pohon di Petak 33B RPH Bungatan menjadi salah satu langkah nyata dalam mendukung upaya pemulihan kawasan hutan yang membutuhkan penambahan vegetasi. Kegiatan ini dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat yang hadir secara sukarela untuk turut berpartisipasi dalam gerakan penghijauan yang terus didorong di berbagai wilayah. Petak 33B dipilih sebagai lokasi penanaman karena memiliki kondisi lahan yang memerlukan pengayaan tanaman agar fungsi ekologisnya dapat kembali optimal.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung sejak pagi, diawali dengan persiapan bibit dan penentuan area tanam. Para peserta datang dengan antusias membawa perlengkapan sederhana untuk menanam, seperti cangkul, ember air, dan alat bantu lainnya. Mereka langsung diarahkan ke titik-titik yang telah ditentukan untuk memastikan distribusi penanaman merata di seluruh area petak. Suasana kerja sama dan gotong royong terlihat sepanjang kegiatan, menunjukkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar.
Proses penanaman dilakukan dengan memperhatikan teknik dasar agar setiap bibit memiliki peluang tumbuh yang maksimal. Peserta diberikan penjelasan mengenai kedalaman tanam, kondisi tanah, serta cara memadatkan kembali tanah agar bibit tidak mudah roboh. Meskipun kegiatan bersifat sederhana, namun setiap langkah dilakukan dengan penuh kesungguhan karena peserta menyadari bahwa tanaman yang mereka tanam akan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan.
Petak 33B sendiri merupakan kawasan yang memiliki potensi besar untuk dipulihkan. Beberapa bagian lahan terlihat terbuka dan membutuhkan vegetasi baru agar ekosistem hutan dapat kembali berfungsi. Penanaman pohon dipandang sebagai langkah awal untuk memperbaiki kondisi tersebut. Dengan tumbuhnya vegetasi baru, diharapkan kawasan ini dapat kembali berperan sebagai penyimpan air, peneduh alami, dan habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna.
Dalam kegiatan ini, bibit yang ditanam beraneka ragam jenis yang sesuai dengan karakteristik tanah setempat. Pemilihan jenis bibit dilakukan berdasarkan pertimbangan daya tahan, kemampuan adaptasi, serta kesesuaian ekologis agar tanaman mampu bertahan dan tumbuh baik di lingkungan hutan Bungatan. Seluruh bibit yang disiapkan berhasil ditanam sesuai rencana, menunjukkan kelancaran kegiatan dari awal hingga selesai.
Selain menjadi upaya pemulihan hutan, kegiatan penanaman pohon ini juga memiliki tujuan edukatif. Masyarakat yang terlibat diajak untuk memahami bahwa hutan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Dengan menjaga dan merawatnya, masyarakat secara tidak langsung menjaga kualitas udara, kestabilan tanah, dan ketersediaan air di wilayah mereka sendiri. Kesadaran seperti ini diharapkan dapat terus tumbuh sehingga kegiatan pelestarian tidak hanya menjadi agenda sesaat, tetapi menjadi budaya positif yang terus dilakukan.

Antusiasme peserta semakin terlihat ketika kegiatan memasuki tahap perawatan awal. Setelah bibit tertanam, beberapa peserta melakukan penyiraman dan pengecekan ulang terhadap bibit yang berisiko patah atau tidak tertanam dengan baik. Mereka menyadari bahwa proses pemulihan hutan tidak berhenti pada penanaman saja, melainkan membutuhkan perhatian lanjutan melalui pemantauan rutin agar tanaman bisa bertahan hingga dewasa.
Kegiatan ini juga menjadi ajang untuk memperkuat hubungan sosial antarwarga. Selama bekerja bersama di tengah hutan, para peserta dapat saling bertukar pengalaman, berbagi cerita, dan memperkuat rasa kebersamaan. Nilai sosial ini menjadi faktor yang turut mendukung keberhasilan kegiatan, karena kepedulian terhadap lingkungan juga lahir dari hubungan masyarakat yang harmonis.
Petak 33B diharapkan dapat menjadi contoh bagi kawasan lain bahwa pemulihan hutan bukan hal yang mustahil apabila dilakukan bersama. Dengan kerja sama dan kesadaran kolektif, area yang sebelumnya terbuka atau rusak dapat kembali hijau dalam beberapa tahun mendatang. Penghijauan tidak selalu membutuhkan biaya besar, tetapi membutuhkan komitmen dan kedisiplinan dalam merawat apa yang sudah ditanam.
Kegiatan penanaman ini menjadi salah satu langkah konkret dalam upaya menciptakan lingkungan yang sehat dan seimbang. Tanaman yang tumbuh di Petak 33B nantinya akan membantu mengurangi risiko erosi, menjaga kestabilan tanah, dan meningkatkan kualitas udara. Selain itu, kawasan hutan yang lebih hijau dapat memberikan manfaat estetika sekaligus menjadi ruang alami yang menenangkan bagi masyarakat sekitar.
Hingga kegiatan berakhir, seluruh proses berjalan tertib dan sesuai rencana. Para peserta berharap kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara rutin untuk menjaga keberlanjutan pemulihan hutan. Dengan demikian, gerakan ini tidak hanya menjadi momen sesaat, tetapi menjadi upaya berkelanjutan demi generasi mendatang. Penanaman pohon di Petak 33B membuktikan bahwa langkah kecil yang dilakukan secara bersama dapat memberikan dampak besar bagi kelestarian lingkungan.
https://Saromben.com













