LC: Lenteranya Para Munafik yang Kesepian

Redaksi

Oleh: Azis Chemoth|Saromben.com

Di negeri yang katanya menjunjung tinggi moral dan etika ketimuran, kita menemukan satu profesi yang tak pernah absen dari bisik-bisik malam: LC, alias Lady’s Companion. Jangan keliru. Ini bukan singkatan dari “Laskar Cinta” atau “Lembaga Cendekia.” LC adalah profesi hiburan malam yang diam-diam dicerca, tapi diam-diam pula diburu. Sebuah ironi yang layak kita tertawakan bersama.

Lucunya, yang paling lantang mencibir LC sebagai “perusak moral bangsa” justru mereka yang hafal tarif layanan, tahu jadwal shift, dan paham sinyal “booking time.” Ada yang datang dengan wajah suci seusai rapat dewan, ada pula yang melanjutkan malam setelah memimpin pengajian. Semuanya berlabel “tokoh masyarakat” yang di siang hari mengutip ayat, dan di malam hari mengganti kitab dengan katalog.

Mari kita jujur: LC bukan biang kerok. Mereka hanyalah produk dari sistem ekonomi pincang, ruang kerja yang sempit, dan realitas hidup yang pahit. Yang patut dicurigai bukan para LC yang menjual waktu, tapi para elite yang menjual nurani di siang hari dan membeli pelipur lara di malam hari.

Masyarakat ini lucu. Dalam seminar, semua berbicara tentang “ketahanan keluarga.” Tapi begitu seminar bubar, beberapa langsung menuju tempat karaoke sambil berdoa: “Semoga LC favorit tidak cuti malam ini.”

LC tidak pernah korupsi. Tidak mencuri APBD. Tidak menipu rakyat lewat proyek fiktif. Tapi dihina seolah biang kehancuran moral bangsa. Padahal yang paling merusak akal sehat kita adalah kemunafikan berjamaah yang kita pelihara dengan tenang, asal jangan sampai viral.

Jadi, siapa sebenarnya yang harus kita hujat?

LC hanya bertahan hidup dalam dunia yang memelihara standar ganda. Mereka hanyalah cermin dan saat kita jijik melihatnya, bisa jadi itu karena kita sedang memandang wajah asli kita sendiri.

Baca Juga:
Polsek Mangaran Gelar Gerakan Pangan Murah, Warga Antusias Dapatkan Beras SPHP Harga Terjangkau

Jika negeri ini ingin bersih dari LC, barangkali langkah pertama bukan menutup karaoke, tapi membersihkan otak dan mulut para elite yang doyan moral di mimbar, tapi doyan dosa di sofa.

Sebab negeri ini bukan kekurangan akhlak. Kita cuma kelebihan aktor.