Religi  

Tuyul dalam Diri Kita: Ketika Keserakahan dan Ketakutan Akan Miskin Melahirkan Anak Gaib

Redaksi

Tuyul bukan sekadar makhluk gaib pencuri uang. Dalam pandangan reflektif Islam, tuyul adalah simbol penyakit hati ~ lahir dari keserakahan (ḥirṣ) dan ketakutan akan miskin (khauf al-faqr). Artikel ini mengajak kita menelusuri makna batin “memelihara tuyul” di zaman modern.

Renungan spiritual dan moral Islam kontemporer

Tuyul dalam Diri Kita: Ketika Keserakahan dan Ketakutan Akan Miskin Melahirkan Anak Gaib

Pendahuluan: Dari Mitos ke Makna

Bagi masyarakat Jawa dan Nusantara, “tuyul” adalah sosok kecil yang dikenal lihai mencuri uang untuk majikannya. Ia digambarkan seperti anak-anak botak, bertubuh mungil, dan hidup dalam dunia gaib. Banyak kisah beredar bahwa orang bisa menjadi kaya mendadak karena “memelihara tuyul”, dengan syarat dan ritual tertentu.

Namun, di balik kisah mistik itu, ada pesan moral yang jauh lebih dalam. Dalam kacamata reflektif keagamaan, tuyul bukan hanya makhluk tak kasat mata, tetapi simbol dari penyakit hati manusia ~ dorongan batin yang membuat seseorang rela melakukan apa saja demi harta.

Dalam tafsir sufistik, diyakini bahwa setiap makhluk gaib memiliki “akar makna” dalam diri manusia. Setan, misalnya, bukan sekadar wujud luar, tetapi juga sifat waswas dan pembangkangan di dalam jiwa. Demikian pula tuyul: ia lahir dari dua kekuatan batin yang sering bercokol dalam diri manusia, yaitu keserakahan (ḥirṣ) dan ketakutan akan miskin (khauf al-faqr).

Bapak Tuyul: Keserakahan (ḥirṣ)

Keserakahan adalah dorongan tak terbatas untuk memiliki, menumpuk, dan terus menambah. Ia bukan sekadar cinta pada harta, melainkan nafsu tanpa ujung terhadap kepemilikan. Dalam bahasa Al-Ghazali, ḥirṣ adalah “api yang membakar hati hingga tak pernah merasa cukup.”

Keserakahan membuat manusia buta terhadap makna berkah. Ia mengubah kerja menjadi perbudakan, dan doa menjadi alat tawar-menawar. Dalam masyarakat modern, bentuknya bisa halus ~ mengejar jabatan tanpa etika, memanipulasi tender, atau bahkan menukar nurani dengan popularitas digital. Semua demi satu hal: lebih banyak.

Baca Juga:
Ribuan Jamaah Padati Pengajian Maulid Nabi di Masjid Baiturrahim Tanjung Sari Timur, Kiai Musleh Adnan Ajak Umat Perbanyak Sholawat

Orang yang hatinya dikuasai ḥirṣ tak ubahnya seperti majikan tuyul. Ia terus “memerintah” makhluk kecil bernama keinginan untuk mencari uang di mana pun, kapan pun, bahkan lewat jalan yang melanggar. Setiap malam pikirannya berputar, bukan tentang zikir atau syukur, melainkan tentang bagaimana menambah saldo dan mengalahkan orang lain.

Rasulullah bersabda:

“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, ia akan menginginkan dua lembah. Dan tidak akan memenuhi perut anak Adam kecuali tanah.”

(HR. Bukhari-Muslim)

Hadis ini bukan ancaman, melainkan cermin. Ia menggambarkan kondisi spiritual manusia yang selalu lapar. Keserakahan membuat manusia tidak lagi bekerja untuk kebutuhan, tetapi untuk ilusi kekuasaan. Ia ingin “memiliki dunia”, padahal yang ia butuhkan hanyalah cukup untuk hidup.

Ibu Tuyul: Ketakutan Akan Miskin (khauf al-faqr)

Jika keserakahan adalah dorongan untuk menambah, maka khauf al-faqr adalah ketakutan untuk kehilangan. Ia tampak berlawanan, tetapi sejatinya adalah pasangan yang sempurna.

Orang yang takut miskin tidak akan pernah merasa aman, bahkan saat harta melimpah. Ia selalu curiga pada masa depan, khawatir tidak cukup, takut gagal, takut miskin, takut dianggap kalah. Dari rasa takut inilah lahir perilaku menimbun, menipu, dan menindas.

Al-Qur’an mengingatkan:

“Setan menjanjikan kepadamu kemiskinan dan menyuruhmu berbuat keji; sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia.”

(QS. Al-Baqarah: 268)

Ayat ini menegaskan bahwa ketakutan akan miskin bukanlah bentuk kehati-hatian, tetapi bisikan setan. Ia menutup jalan tawakal. Orang yang terlalu takut miskin akhirnya menjadi miskin dalam makna rohani ~ miskin iman, miskin syukur, miskin kasih.

Dalam dunia modern, khauf al-faqr sering bersembunyi di balik istilah “keamanan finansial” atau “stabilitas ekonomi”. Tidak salah menyiapkan masa depan, tetapi ketika ketakutan itu menguasai hati hingga membuat kita kehilangan empati, itulah saat ketika kita mulai “memelihara tuyul”.

Baca Juga:
Ngaji Jodoh Bersama Kak Oki Aryono: Mengungkap Rahasia Kenapa Jodoh Orang Lain Datang Duluan

Perkawinan Dua Sifat: Lahirnya “Anak Tuyul”

Ketika ḥirṣ (keserakahan) dan khauf al-faqr (ketakutan akan miskin) bertemu, lahirlah “anak tuyul”. Ia adalah simbol dari perilaku manusia yang mencari kekayaan dengan cara curang, licik, atau bahkan mistik.

Anak tuyul ini tidak berwujud fisik, melainkan roh keserakahan yang hidup dalam tindakan kita sendiri. Ia mencuri dari waktu, kejujuran, dan nurani kita.

Ia “mencuri” waktu dengan menjadikan manusia budak kerja tanpa makna.

Ia “mencuri” kejujuran dengan membuat kita berani memanipulasi laporan dan akad.

Ia “mencuri” nurani dengan membuat kita tega menindas sesama demi uang.

Maka ketika seseorang berkata, “Ia kaya karena memelihara tuyul,” bisa jadi itu bukan sekadar sindiran mistik, tetapi diagnosis moral: bahwa dalam dirinya hidup dua penyakit hati yang melahirkan perilaku curang dan rakus.

Memelihara Tuyul di Era Modern

Kita hidup di zaman di mana tuyul digital bisa bekerja lebih cepat dari makhluk gaib. Ia berbentuk algoritma, manipulasi data, pencitraan palsu, atau bisnis yang menipu publik.

Di dunia maya, keserakahan menemukan bentuk barunya: “menjadi viral demi uang.”

Seseorang bisa memproduksi kebohongan hanya agar mendapatkan klik, adsense, atau donasi. Ia tidak sadar bahwa yang ia beri makan bukan akal sehat masyarakat, tetapi tuyul dalam dirinya sendiri.

Ketakutan akan miskin juga menjelma dalam bentuk lain: kekhawatiran kehilangan “relevansi digital.” Banyak orang yang takut tidak diingat, takut tidak populer, takut kalah dari tren. Maka mereka pun menjual diri dalam bentuk konten yang memalukan, hanya demi bertahan di arus viralitas.

Itulah bentuk modern dari “ritual memandikan tuyul” ~ merawat citra demi harta, bukan nilai.

Keserakahan

Jalan Tazkiyah: Menyucikan Diri dari Tuyul Batin

Baca Juga:
Pesantren sebagai Benteng Moral dan Cahaya Indonesia

Islam menawarkan jalan pembebasan yang disebut tazkiyah al-nafs ~ penyucian jiwa. Dalam tazkiyah, manusia diajak untuk mengenali penyakit hatinya, lalu menggantinya dengan sifat-sifat ilahiah.

Untuk melawan ḥirṣ, obatnya adalah qanā‘ah (merasa cukup).

Untuk melawan khauf al-faqr, penawarnya adalah tawakal (percaya pada rezeki Allah).

Rasulullah bersabda:

“Beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan.”

(HR. Muslim)

Qanā‘ah bukan berarti pasrah malas, tetapi kesadaran bahwa nilai diri tidak diukur dari harta. Orang yang qanā‘ah tetap bekerja keras, tetapi hatinya tenang. Ia tahu bahwa apa pun hasilnya, rezeki sudah ditakar.

Sementara tawakal bukan berarti tidak merencanakan masa depan, melainkan menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah. Orang yang bertawakal bekerja dengan hati damai ~ ia tidak takut miskin, karena yakin bahwa yang mengatur hidup adalah Zat yang Maha Kaya.

Menyadari Diri sebagai Penjaga, Bukan Pemilik

Salah satu akar dari keserakahan adalah lupa bahwa manusia hanyalah penjaga, bukan pemilik sejati. Al-Qur’an menegaskan:

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.”

(QS. Al-Hadid: 7)

Kata “menguasainya” (mustakhlafīn fīh) berarti bahwa manusia hanyalah khalifah, bukan pemilik mutlak. Harta hanyalah titipan, bukan identitas.

Ketika manusia menyadari hal ini, ia tidak akan lagi memelihara tuyul batin. Sebab, ia tahu bahwa menimbun tidak menambah, mencuri tidak memperkaya, dan takut miskin tidak menolong.

Membebaskan Diri dari Ilusi Kekayaan

Kekayaan sejati bukan pada banyaknya harta, tetapi pada lapangnya hati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukanlah kekayaan itu banyaknya harta, tetapi kekayaan sejati adalah kaya hati.”

(HR. Bukhari-Muslim)

Keserakahan dan ketakutan akan miskin menipu manusia dengan dua ilusi:

Baca Juga:
Ajaran Kapitayan: Spiritual Jawa Kuno yang Hampir Terlupakan

Bahwa kebahagiaan bisa dibeli.

Bahwa kemiskinan adalah aib.

Padahal, sejarah Islam penuh dengan teladan para sahabat yang hidup sederhana, tetapi kaya jiwa. Abu Bakar ra. menginfakkan seluruh hartanya. Umar ra. menyisihkan separuhnya. Utsman ra. membiayai perang dengan ikhlas. Ali ra. hidup dalam kesederhanaan, tetapi hatinya lapang seperti samudera.

Mereka adalah orang-orang yang tidak punya tuyul, karena yang mereka pelihara bukan nafsu, melainkan iman.

Simbolisme Tuyul dalam Tasawuf dan Budaya

Dalam pendekatan sufistik, setiap makhluk gaib mencerminkan realitas batin manusia. Setan melambangkan hawa nafsu, jin mewakili kekuatan tersembunyi dalam pikiran, dan tuyul adalah personifikasi dari nafs ammarah bi al-su’ ~ nafsu yang memerintah pada kejahatan.

Budaya Jawa yang mengenal tuyul sejatinya sedang menasihati dengan simbol: bahwa kekayaan yang diperoleh tanpa keberkahan akan “dicuri kembali” oleh ketenangan yang hilang.

Maka kisah orang kaya yang tidak bahagia, pejabat yang dikelilingi korupsi, atau pebisnis yang tak tenang tidur, sejatinya sedang dikejar tuyul batin mereka sendiri. Bukan karena makhluk gaib berwujud anak kecil, melainkan karena makhluk keserakahan dan ketakutan dalam diri belum disucikan.

Kesimpulan: Membunuh Tuyul dalam Diri

Setiap manusia memiliki potensi menjadi penjaga keberkahan, atau majikan bagi tuyul batin. Pilihannya sederhana namun menentukan:

Apakah kita ingin hidup dengan ketenangan, atau terus dikejar ketakutan akan kehilangan?

Apakah kita ingin kaya secara batin, atau sekadar menumpuk harta yang tak pernah cukup?

Tuyul tidak hidup di luar diri kita. Ia tumbuh dari hati yang tidak pernah puas dan takut miskin. Membunuh tuyul bukan dengan mantra, tapi dengan zikir. Menangkal tuyul bukan dengan rajah, tapi dengan sedekah.

Semakin kita belajar merasa cukup, semakin kecil peluang tuyul batin itu beranak-pinak. Dan ketika hati kita tenang dalam keyakinan bahwa rezeki telah ditetapkan, maka sesungguhnya kita telah menjadi orang paling kaya di dunia.

Baca Juga:
Air Liur Anjing Najis, Lalu Bagaimana dengan Air Liur Manusia? Penjelasan Islam, Kesehatan, dan Filosofi

Penutup:

Tuyul sejati bukan makhluk halus yang mencuri uang, melainkan makhluk halus dalam diri yang mencuri kedamaian. Ia lahir dari dua orang tua batin: keserakahan dan ketakutan akan miskin. Dan sebagaimana setiap anak bisa tumbuh besar, tuyul itu pun bisa membesar bila tidak disucikan dengan iman.

Maka marilah kita berhenti “memelihara tuyul.”

Karena sejatinya, yang paling menakutkan bukan tuyul yang mencuri uang di malam hari, tetapi tuyul dalam diri yang mencuri cahaya iman setiap saat.

https://Saromben.com