Opini  

UKW Bukan Jaminan Wartawan Sejati

Redaksi

Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sering disebut sebagai tolok ukur profesionalitas seorang wartawan. Sertifikat UKW dianggap tanda pengakuan resmi bahwa seseorang layak menyandang predikat wartawan profesional. Namun, apakah UKW benar-benar menjamin seseorang otomatis menjadi wartawan sejati?

Fakta di lapangan justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Ada wartawan yang sudah ikut UKW, memegang sertifikat, tapi kerja sehari-harinya hanya mondar-mandir bertamu ke kantor desa atau dinas, lalu pulang dengan amplop di saku. Alih-alih menulis berita dan mengabdi pada kebenaran, profesi wartawan dijadikan kedok untuk mencari keuntungan pribadi. Inilah wajah nyata wartawan abal-abal: sah secara formal, tapi rapuh secara moral.

Di sisi lain, tidak sedikit wartawan yang belum mengikuti UKW, tetapi tetap teguh menulis kebenaran. Mereka tidak mengemis ke pejabat, tidak menjual berita, dan menjaga independensi dalam setiap tulisannya. Secara substansi, justru merekalah yang lebih pantas disebut wartawan sejati, meskipun tanpa selembar sertifikat.

Artinya, UKW memang penting sebagai standar kompetensi, tetapi bukan jaminan mutlak atas integritas. Wartawan sejati bukan hanya soal kelulusan ujian, melainkan bagaimana ia memegang teguh kode etik, menjalankan fungsi kontrol sosial, dan setia pada nurani publik.

Profesi wartawan adalah profesi terhormat, tetapi akan kehilangan wibawa bila hanya diukur dari selembar sertifikat. Pada akhirnya, masyarakatlah yang bisa menilai: mana wartawan yang sungguh-sungguh berjuang untuk kebenaran, dan mana yang sekadar memakai label wartawan untuk berburu amplop.

Tulisan ini bersifat opini umum dan tidak ditujukan untuk menyudutkan individu atau lembaga tertentu. Kritik diarahkan pada fenomena, bukan pada pribadi.

Baca Juga:
Menjual Kata-kata Demi Mendapatkan Proyek
Penulis: Azis Chemoth