SITUBONDO – Tri Mulyono, Korwil Jatim SarombenNews, menilai bahwa detail kecil dalam perilaku manusia sering menjadi petunjuk paling jujur untuk membaca realitas sosial maupun dinamika intelijen modern. Menurutnya, bahasa tubuh, jeda saat berbicara, perubahan ritme komunikasi, hingga pola kebiasaan tertentu dapat mengungkap sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam pernyataan formal, Sabtu (9/5/2026).
Komentar tersebut disampaikan Tri Mulyono saat membahas bagaimana perkembangan era digital telah mengubah pola pembentukan persepsi publik dan cara manusia menyembunyikan maupun menampilkan citra di ruang sosial.
“Dalam dunia intelijen, detail kecil sering lebih jujur daripada pengakuan panjang. Cara seseorang menatap, jeda saat menjawab, pola kebiasaan, perubahan ritme bicara, hingga hal yang dianggap sepele, semuanya adalah petunjuk,” ujar Tri Mulyono.
Menurutnya, masyarakat modern saat ini hidup di tengah arus informasi yang sangat cepat, sementara hampir setiap pihak berlomba membangun citra dan narasi demi memengaruhi cara publik melihat suatu keadaan.
Akibatnya, kata Tri Mulyono, masyarakat sering terlalu fokus pada ucapan di permukaan, tetapi lupa membaca pola yang muncul secara spontan.
Respons Spontan Dinilai Lebih Sulit Direkayasa
Tri Mulyono menjelaskan bahwa manusia mungkin mampu menyusun kalimat dengan sangat rapi, namun respons nonverbal sering kali lebih sulit dikendalikan secara konsisten.
Ia mencontohkan perubahan kecil seperti tatapan mata yang tidak stabil, nada suara yang mendadak berubah, gerakan tangan yang kehilangan ritme alami, hingga jeda singkat sebelum menjawab pertanyaan tertentu sebagai bagian dari sinyal psikologis yang patut diperhatikan.
“Orang bisa melatih pidato dan membangun pencitraan. Tetapi tekanan psikologis hampir selalu meninggalkan jejak,” katanya.
Dalam dunia intelijen modern, lanjutnya, pola-pola kecil seperti itu tidak dipandang sebagai kebetulan semata, melainkan bagian dari indikator yang harus dibaca secara menyeluruh sebelum menarik kesimpulan.
Karena itu, kemampuan observasi dinilai menjadi salah satu kemampuan penting di tengah era digital yang dipenuhi perang opini dan manipulasi persepsi.
Dunia Modern Dinilai Sedang Mengalami Perang Persepsi
Tri Mulyono menilai perkembangan media sosial telah mempercepat terbentuknya perang persepsi di ruang publik. Informasi bergerak sangat cepat, opini dibangun dalam hitungan detik, sementara emosi masyarakat sering diarahkan melalui narasi yang diproduksi secara terus-menerus.

Menurutnya, situasi tersebut membuat batas antara fakta dan pencitraan semakin sulit dibedakan oleh masyarakat awam.
“Semakin besar kepentingan yang sedang dimainkan, biasanya semakin rapi cara menutupinya. Tetapi pola kecil sering tetap lolos tanpa disadari,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa pengaruh di era modern tidak selalu bergerak melalui kekuatan terbuka, melainkan melalui pembentukan persepsi, pengondisian emosi publik, serta pengulangan narasi yang dilakukan secara sistematis.
Karena itu, detail kecil dinilai memiliki nilai penting dalam membantu membaca arah situasi yang sebenarnya.
Intelijen Modern Tidak Lagi Sekadar Tentang Operasi Rahasia
Lebih lanjut, Tri Mulyono menjelaskan bahwa pendekatan intelijen modern kini telah berkembang jauh melampaui dunia spionase konvensional. Analisis perilaku manusia bahkan digunakan dalam bidang politik, bisnis, komunikasi publik, hingga strategi media digital.
Perusahaan besar, katanya, mempelajari pola psikologi konsumen untuk memahami perilaku pasar. Sementara itu, tim politik membaca respons emosional masyarakat untuk membentuk strategi komunikasi yang lebih efektif.
“Manusia selalu meninggalkan pola. Dan pola jauh lebih sulit berbohong dibanding ucapan,” kata Tri Mulyono.
Ia menilai individu yang memiliki kemampuan membaca pola biasanya lebih cepat memahami keadaan dibanding mereka yang hanya melihat permukaan.
Ketajaman Observasi Dinilai Semakin Penting
Di akhir komentarnya, Tri Mulyono mengingatkan pentingnya membangun ketajaman berpikir dan kemampuan observasi di tengah dunia yang dipenuhi kebisingan informasi.
Menurutnya, masyarakat perlu lebih kritis dalam membaca situasi agar tidak mudah terseret propaganda, manipulasi opini, maupun pencitraan yang dibangun secara sistematis.
“Kadang yang paling berbahaya bukan kebohongan yang kasar, tetapi narasi yang terlihat sangat meyakinkan,” pungkasnya.
Ia menegaskan bahwa dalam banyak situasi, kebenaran tidak selalu muncul melalui pernyataan besar atau suara yang paling keras. Sebaliknya, realitas sering terbuka melalui detail-detail kecil yang terlihat sederhana, tetapi terus muncul secara berulang.












