Banyak orang berlomba berangkat haji berkali-kali atau umroh hampir setiap tahun. Mereka menghabiskan ratusan juta rupiah demi perjalanan spiritual berulang. Namun, di sekeliling mereka masih ada tetangga yang lapar, anak-anak yang putus sekolah, dan orang sakit yang tak mampu berobat. Pertanyaannya: di mana letak kepedulian sosial dalam kesalehan yang dibanggakan itu?
Fenomena keberagamaan kita hari ini penuh ironi. Haji dan umroh yang sejatinya mulia, sering berubah menjadi ritual berulang yang tidak lagi soal iman, melainkan simbol prestise. Foto-foto di depan Ka’bah atau Masjid Nabawi dipamerkan di media sosial, seakan itu ukuran kedekatan dengan Tuhan. Sementara itu, wajah-wajah fakir miskin di sekitar rumah hanya menjadi pemandangan biasa yang tak perlu ditengok.
Ibadah tidak salah, tetapi ketika ritual lebih dipentingkan daripada kepedulian sosial, maknanya menjadi timpang. Apakah Tuhan hanya hadir di Makkah dan Madinah? Bukankah Ia juga ada dalam air mata anak yatim yang terancam putus sekolah, dalam perut kosong yang menahan lapar, dan dalam suara orang miskin yang menjerit minta tolong?

Haji sekali seumur hidup sudah menunaikan kewajiban. Bila ada rezeki lebih, seharusnya digunakan untuk memberdayakan masyarakat kecil. Menyantuni anak yatim, membantu fakir miskin, membangun fasilitas pendidikan, atau menolong korban bencana semua itu adalah ibadah sosial yang nilainya bisa jauh lebih besar daripada sekadar mengulang-ulang perjalanan ke tanah suci.
Sayangnya, sebagian orang lebih sibuk menumpuk kesalehan pribadi daripada menghadirkan manfaat sosial. Mereka lebih nyaman mendengar doa di tanah suci daripada mendengar keluhan tetangga yang lapar. Mereka lebih senang membeli oleh-oleh dari luar negeri daripada berbagi dengan anak-anak jalanan yang mengais sisa makanan.
Agama akhirnya terjebak menjadi formalitas. Kesalehan berhenti pada level simbol, tidak menjelma menjadi energi sosial yang menyejukkan. Padahal, ajaran agama jelas menekankan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
Karena itu, kritik ini perlu ditegaskan: berhentilah menjadikan haji dan umroh berulang sebagai ajang kebanggaan pribadi. Mulailah menyeimbangkan antara kesalehan vertikal dengan kesalehan horizontal. Sebab, perjalanan spiritual sejati bukanlah ribuan kilometer menuju tanah suci, melainkan langkah kecil hati kita mendekati penderitaan sesama.













