Religi  

Ribuan Jamaah Padati Pengajian Maulid Nabi di Masjid Baiturrahim Tanjung Sari Timur, Kiai Musleh Adnan Ajak Umat Perbanyak Sholawat

Redaksi

Situbondo ~ Suasana malam begitu semarak di Dusun Tanjung Sari Timur, Desa Tanjung Kamal, Kecamatan Mangaran, Kabupaten Situbondo. Ribuan jamaah memadati persawahan dan jalan area Masjid Baiturrahim untuk mengikuti pengajian umum Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu malam minggu (11/10/2025).

Untuk menjaga keamanan dan ketertiban acara, perangkat Desa Tanjung Kamal berjaga di pintu gerbang masuk dusun. Mereka mengatur arus kendaraan jamaah yang datang dari berbagai daerah agar tidak terjadi kemacetan.
Dari jajaran Polsek Mangaran, tampak Agus, Dedi, dan Taufik turut memantau situasi di lokasi acara.

Sementara itu, Pak RT Papang dan Pak RT Ismail terlihat sibuk mengatur area parkir, memastikan setiap kendaraan tertata rapi. Koordinasi yang baik antara perangkat desa, panitia, dan masyarakat membuat acara berjalan lancar dan tertib dari awal hingga akhir.

Kehadiran Kiai Musleh Adnan Jadi Magnet Jamaah

Antusiasme masyarakat sangat besar karena penceramah utama kali ini adalah Kiai Musleh Adnan, ulama asal Pulau Garam Madura yang dikenal luas melalui kanal YouTube dan berbagai media sosial. Namanya sudah tak asing lagi di kalangan jamaah Madura, Tapal Kuda, hingga Jawa Timur bagian timur.

Kehadiran beliau menjadi magnet bagi ribuan jamaah. Warga sekitar pun bergotong royong menyediakan konsumsi dan tempat parkir bagi para tamu.
“Alhamdulillah, tahun ini pengajian Maulid Nabi di desa kami sangat meriah. Semoga membawa berkah bagi masyarakat,” ujar ketua panitia.

Tausiyah yang Menyejukkan: Perbanyak Sholawat dan Istigfar

Dalam ceramahnya yang penuh makna, Kiai Musleh Adnan mengingatkan umat Islam agar memperbanyak sholawat dan istigfar. Menurut beliau, dua amalan ini adalah jalan menuju ampunan dan ketenangan hati.

“Allah akan mengampuni dosa umat Nabi Muhammad sebelum nafas berada di kerongkongan,”
~ Kiai Musleh Adnan

Baca Juga:
KH. Ramok Segoro Tekankan Ketajaman Rasa dan Akhlak dalam Walimatul ‘Ursy & Walimatul Hamli di Tanjung Sari Timur

Beliau menegaskan, umat hendaknya tidak menunda taubat dan terus berusaha memperbaiki diri.
“Kita tidak tahu kapan ajal datang. Maka jangan tunda untuk beristigfar,” pesannya.

Analogi Menarik: Amal Baik Seperti Sistem MLM
Photo: Ribuan Jama’ah dari Berbagai Penjuru Desa

Analogi Menarik: Amal Baik Seperti Sistem MLM

Dengan gaya khasnya yang lugas dan diselingi humor, Kiai Musleh menyampaikan analogi menarik.
Beliau menyebut pelopor amal baik maupun dosa memiliki kesamaan dengan sistem multi level marketing (MLM).

“Kalau seseorang mengajarkan kebaikan, lalu orang lain menirunya, maka pahala akan terus mengalir meski dia sudah meninggal dunia,” jelasnya.

Sebaliknya, siapa pun yang memulai keburukan dan diikuti orang lain, dosanya pun tetap berjalan. Karena itu, beliau berpesan agar umat berhati-hati dalam berkata dan berbuat, terutama di era digital.

“Jempol di media sosial bisa jadi sumber pahala, bisa juga sumber dosa. Gunakan untuk kebaikan,” ujar Kiai Musleh disambut tepuk tangan jamaah.

Tiga Amal yang Tak Terputus

Lebih lanjut, Kiai Musleh mengutip sabda Rasulullah SAW tentang tiga amal yang tidak akan terputus:

1. Sedekah jariyah

2. Ilmu yang bermanfaat

3. Doa anak yang saleh

“Jangan remehkan amal kecil. Bisa jadi satu senyum tulus, satu sedekah, atau satu doa membuat hidup kita berkah dan husnul khatimah,” tuturnya lembut.

Surat Al-Falaq dan Larangan Menuduh Tanpa Bukti

Beliau juga membahas kisah turunnya Surat Al-Falaq, yang terjadi ketika Nabi Muhammad SAW terkena sihir. Namun Kiai Musleh menegaskan agar umat tidak gegabah menuduh seseorang sebagai tukang sihir tanpa bukti kuat.

“Menuduh tanpa dasar adalah dosa besar. Islam mengajarkan kita tabayyun, yaitu mencari kebenaran dengan hati-hati,” tegasnya.

Pesan ini menjadi pengingat agar masyarakat menjaga lisan dan sikap, terutama di tengah maraknya isu viral di media sosial.

Baca Juga:
Ngaji Jodoh Bersama Kak Oki Aryono: Mengungkap Rahasia Kenapa Jodoh Orang Lain Datang Duluan

Apresiasi Kepala Desa: Wujud Kebersamaan dan Cinta Rasul

Di penghujung acara, Kepala Desa Tanjung Kamal, H. Maulana Ashar, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak.
“Terima kasih kepada jamaah yang datang dari berbagai daerah. Semoga kita semua mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.

Ia juga berharap kegiatan seperti ini terus dilestarikan sebagai sarana mempererat silaturahmi.
“Semoga Desa Tanjung Kamal senantiasa diberkahi, aman, dan damai,” tambahnya.

Kerjasama antara perangkat desa, pemuda, dan masyarakat menunjukkan semangat gotong royong yang tinggi.
Photo: Hadrah Tanjung Sari Timur Bersama Jama’ah

Makna Spiritual di Balik Maulid Nabi

Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perayaan lahirnya Rasulullah, tetapi juga ajang meneladani akhlak dan perjuangannya. Dalam konteks kehidupan modern, pesan sholawat dan istigfar semakin relevan.

Banyak jamaah mengaku tersentuh dengan ceramah Kiai Musleh Adnan.
“Saya merasa seperti diingatkan kembali untuk memperbaiki diri,” ujar H. Lukman, jamaah asal Pokaan Tengah.

Sepasang suami istri warga Alasmalang, Sasmita, juga datang demi melihat langsung sang kiai kondang, meski beliau sudah meninggalkan lokasi usai ceramah.

Acara ditutup dengan doa bersama dan lantunan sholawat yang menggema di seluruh penjuru dusun. Lampu pentas yang berkilau menambah suasana syahdu malam peringatan kelahiran manusia agung, Nabi Muhammad SAW.

Kesimpulan

Pengajian Maulid Nabi di Masjid Baiturrahim Tanjung Sari Timur bukan hanya acara tahunan, melainkan wujud cinta dan penghormatan kepada Rasulullah SAW.

Kerjasama antara perangkat desa, pemuda, dan masyarakat menunjukkan semangat gotong royong yang tinggi.
Sementara pesan Kiai Musleh Adnan menjadi pengingat agar umat Islam senantiasa memperbanyak sholawat, istigfar, dan amal jariyah sebagai bekal menuju kehidupan abadi.

Dengan penyelenggaraan yang tertib, aman, dan penuh makna, acara ini menjadi bukti bahwa semangat religius masyarakat Tanjung Sari Timur masih sangat kuat dan terus hidup dari generasi ke generasi.

Baca Juga:
Pesantren sebagai Benteng Moral dan Cahaya Indonesia