Sebagai pecinta PPP, saya percaya partai ini masih punya ruang untuk bangkit. Namun kebangkitan hanya akan lahir jika PPP berani berbenah, kembali pada akar perjuangan umat, dan menghadirkan politik yang bersih serta merakyat.
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sedang berada di persimpangan sejarah. Partai yang pernah menjadi simbol persatuan umat Islam ini kini menghadapi ujian terberat: kehilangan kursi di parlemen dan krisis kepercayaan di tengah umat. Sebagai pecinta PPP, saya meyakini bahwa partai ini belum habis. Namun, untuk bangkit kembali, PPP harus berani melakukan pembaruan mendasar bukan sekadar tambal sulam atau kompromi elite.
PPP tidak boleh hanya hidup dari romantisme masa lalu. Umat kini semakin kritis, dan politik tidak lagi bisa dijalankan dengan jargon tanpa tindakan nyata. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menata ulang arah perjuangan, mengembalikan marwah partai, serta menghadirkan wajah politik yang bersih dan solutif. Inilah tantangan sekaligus harapan bagi PPP ke depan.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kini berada pada persimpangan sejarah. Setelah melewati masa sulit pada Pemilu 2024, partai ini dihadapkan pada pertanyaan besar: masihkah PPP relevan untuk umat dan bangsa, atau justru perlahan kehilangan pijakan?
Sebagai pecinta PPP, saya menolak untuk melihat partai ini hanya menjadi catatan masa lalu. Bagi saya, PPP adalah warisan panjang perjuangan umat Islam di Indonesia, simbol persatuan dalam keberagaman, dan rumah besar yang pernah melahirkan banyak tokoh bangsa.
Namun, saya juga menyadari bahwa cinta saja tidak cukup. PPP harus berani berbenah. Politik penuh intrik dan perebutan kursi hanya akan mengikis kepercayaan umat. Yang dibutuhkan ke depan adalah kepemimpinan yang jujur, bersih, dan mampu mengembalikan marwah partai sebagai penyalur aspirasi rakyat kecil.

PPP harus kembali pada akar perjuangannya: membela umat, merawat persatuan, dan memperjuangkan keadilan sosial. Di tengah masyarakat yang semakin kritis, partai ini hanya bisa bertahan jika menghadirkan politik yang menyentuh kebutuhan nyata, bukan sekadar retorika kosong.
Saya yakin, generasi muda PPP adalah kunci untuk membuka pintu kebangkitan. Mereka adalah wajah baru yang bisa membawa partai ini lebih segar, lebih dekat dengan rakyat, dan lebih siap menjawab tantangan zaman.
Sebagai pecinta PPP, saya percaya muktamar mendatang adalah momentum emas. Dari sana, lahir pemimpin yang bukan hanya pandai berpolitik, tetapi juga mampu merangkul, menenangkan, dan menyalakan kembali api persatuan.

Masa depan PPP memang tidak mudah. Tapi sejarah mengajarkan, partai yang lahir dari semangat persatuan dan ketulusan umat tidak akan mudah hilang, selama ada cinta dan doa dari para pecintanya.
Dan saya, sebagai pecinta PPP, akan terus menjaga harapan itu. Karena bagi saya, PPP bukan sekadar partai politik, melainkan cahaya yang pernah menerangi jalan umat dan saya yakin, cahaya itu bisa kembali bersinar.













