Perguruan Silat Teratai Putih Mangaran: Menjaga Warisan, Menumbuhkan Jiwa Kesatria

Redaksi

Situbondo – Di tengah derasnya arus modernisasi, seni bela diri tradisional tetap menjadi warisan budaya yang perlu dijaga. Salah satu perguruan yang menonjol adalah Perguruan Silat Teratai Putih Mangaran, yang dipimpin oleh Kak Sur. Dengan pendekatan disiplin namun penuh kasih sayang, perguruan ini membimbing generasi muda tidak hanya untuk menguasai bela diri, tetapi juga membentuk karakter yang tangguh dan beretika.

Perguruan Silat Teratai Putih Mangaran berdiri secara tradisional pada tahun 1988, hingga kini telah 37 tahun berkiprah. Para murid tersebar di Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Sepudi, Madura, Pulau Bawean, serta di Malaysia.

Filosofi Teratai Putih: Kesucian di Tengah Tantangan

Nama Teratai Putih membawa makna filosofis yang mendalam. Dalam budaya Jawa dan Nusantara, bunga teratai tumbuh di air yang keruh namun tetap putih bersih, melambangkan kesucian hati, ketenangan batin, dan kebijaksanaan. Filosofi ini dijadikan dasar pendidikan di perguruan, menekankan bahwa seorang pesilat sejati harus kuat secara fisik, tangguh secara mental, dan luhur dalam moral.

Perguruan ini menekankan prinsip: “Ilmu silat bukan untuk menyakiti, tetapi untuk melindungi dan menolong.” Dengan nilai ini, setiap murid diajarkan untuk menggunakan kemampuan fisik dan strategi bela diri secara bijak, serta menanamkan rasa hormat terhadap guru, sesama murid, dan masyarakat.

Kepemimpinan Kak Sur: Guru, Pembimbing, dan Inspirasi

Kak Sur dikenal sebagai sosok pemimpin yang penuh kasih sayang. Ia membimbing muridnya dengan pendekatan personal, memastikan setiap teknik dan jurus dipahami secara mendalam. Disiplin menjadi pondasi utama, namun pembelajaran tidak hanya terbatas pada fisik; aspek mental dan spiritual selalu diperkuat.

Latihan dilakukan malam hari di halaman rumah Kak Sur, di mana suara hentakan kaki dan teriakan semangat menciptakan atmosfer khas pembelajaran yang hidup. Aktivitas ini tidak hanya mengasah kemampuan bela diri, tetapi juga melatih konsentrasi, ketahanan fisik, dan kerjasama antar murid.

Baca Juga:
Tiga Nelayan Situbondo Selamat Setelah Terombang-ambing di Perairan Raas

Program Latihan dan Teknik Dasar

Perguruan Silat Teratai Putih menawarkan berbagai program latihan yang sistematis:

1. Latihan Fisik dan Kekuatan:

Pemanasan, kekuatan inti, dan kelenturan tubuh.

Latihan langkah dan pukulan yang terstruktur.

2. Teknik Dasar Silat:

Jurus tangan kosong, kuda-kuda, tangkisan, dan serangan.

Simulasi pertahanan diri dengan lawan nyata untuk membangun refleks cepat.

3. Latihan Mental dan Karakter:

Meditasi singkat sebelum dan sesudah latihan.

Penanaman nilai moral seperti disiplin, tanggung jawab, dan solidaritas.

Setiap murid didorong untuk menguasai teknik secara bertahap, mulai dari jurus dasar hingga kombinasi gerakan kompleks, sehingga mereka siap menghadapi situasi nyata dengan percaya diri.

Perguruan Silat Teratai Putih Mangaran

Nilai Pendidikan Karakter di Perguruan Silat

Selain kemampuan fisik, perguruan ini menekankan pendidikan karakter sebagai inti dari setiap latihan. Nilai-nilai yang dijunjung tinggi antara lain:

Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa: Membentuk kesadaran spiritual dan rendah hati.

Hormat kepada guru dan sesama murid: Menumbuhkan etika dan kebersamaan.

Disiplin dan tanggung jawab: Menjadi pondasi untuk kehidupan sehari-hari.

Menjauhi kesombongan dan permusuhan: Membina sikap sportif dan empati.

Kak Sur sering menekankan bahwa ilmu silat tidak hanya untuk menang dalam pertarungan fisik, tetapi juga untuk membentuk mental kuat dan perilaku mulia, yang relevan dalam kehidupan modern.

Peran Perguruan dalam Menjaga Budaya Nusantara

Perguruan Silat Teratai Putih bukan sekadar tempat latihan, tetapi juga wadah pelestarian budaya Nusantara. Melalui gerakan, musik pengiring, dan filosofi yang diajarkan, generasi muda diajak untuk mencintai warisan leluhur.

Beberapa kegiatan budaya yang rutin diadakan antara lain:

Pertunjukan Silat Tradisional: Dalam acara Dengkung atau Sarama’an, untuk memperkenalkan seni bela diri kepada masyarakat luas.

Baca Juga:
Pengacara Bantah Tuduhan Pencabulan ZAA: Klaim Ada Politisasi di Balik Kasus

Pendidikan Moral dan Etika Tradisional: Menyisipkan cerita dan nilai budaya dalam setiap berkumpul.

Dengan kegiatan ini, perguruan menjadi jembatan antara tradisi dan generasi modern, sehingga budaya silat tetap hidup dan relevan.

Dampak Positif bagi Murid dan Masyarakat

Latihan di perguruan ini memberikan manfaat yang luas:

Bagi Murid: Peningkatan kesehatan fisik, kemampuan bela diri, disiplin, dan kepercayaan diri.

Bagi Masyarakat: Munculnya generasi muda yang berbudi luhur, siap membantu masyarakat, dan menjaga ketertiban sosial.

Murid yang lulus dari perguruan ini tidak hanya piawai dalam jurus, tetapi juga siap menghadapi tantangan hidup dengan kepala dingin dan hati mulia.

Harapan dan Visi Masa Depan

Kak Sur berharap Perguruan Silat Teratai Putih Mangaran menjadi pusat pembinaan karakter dan kebudayaan bagi pemuda-pemudi Situbondo. Ia ingin perguruan ini:

Menjadi tempat belajar disiplin dan kesehatan.

Menguatkan cinta budaya bangsa.

Menumbuhkan generasi berjiwa kesatria dan rendah hati.

Seperti bunga teratai yang tetap bersih meski tumbuh di air keruh, murid-murid perguruan ini diharapkan menjadi teladan bagi masyarakat, kuat secara fisik, cerdas secara mental, dan mulia secara moral.

Kesimpulan

Perguruan Silat Teratai Putih Mangaran bukan sekadar tempat belajar bela diri, tetapi juga tempat menanam nilai-nilai kehidupan yang luhur. Dipandu Kak Sur, generasi muda diajarkan untuk menjadi pesilat sejati yang beretika, disiplin, dan berjiwa kesatria.

Dengan kombinasi latihan fisik, pendidikan karakter, dan pelestarian budaya, perguruan ini membuktikan bahwa warisan leluhur tetap relevan di era modern, dan setiap gerakan silat bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk membentuk manusia yang utuh dan berbudi pekerti luhur.

https://Saromben.com