Situbondo ~ Di tengah perubahan sosial yang bergerak cepat dan sering kali tak terduga, kebutuhan akan kader-kader muda yang memiliki ketajaman intelektual, ketahanan moral, dan kekuatan karakter menjadi semakin mendesak. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Konstitusi menjawab kebutuhan tersebut dengan menyelenggarakan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) ke–X, sebuah proses kaderisasi dasar yang berlangsung pada 14–16 November 2025 di Balai Desa Pokaan. Tidak sekadar ritual tahunan, MAPABA kali ini menjadi ruang rekonstruksi nilai militansi dan loyalitas yang relevan bagi generasi muda pergerakan.
Tema “Reaktualitas Militansi dan Loyalitas Anggota untuk Organisasi Transformatif” dipilih sebagai cermin dari keprihatinan sekaligus harapan. Di satu sisi, perubahan zaman menuntut organisasi mahasiswa untuk merumuskan ulang cara bergerak. Di sisi lain, generasi baru PMII memerlukan ruang pembelajaran yang bukan hanya mengenalkan organisasi, tetapi juga membentuk kerangka berpikir, sikap, dan karakter yang kokoh.
Merumuskan Ulang Militansi di Era Disrupsi
Dalam sambutannya pada pembukaan acara, Ketua Rayon Konstitusi Abdillah Zaini R menyampaikan bahwa tema ini bukan sekadar hasil rapat panitia, tetapi respon atas fenomena sosial yang tengah berlangsung. Baginya, militansi tidak lagi bisa dipahami sebagai semangat menggebu-gebu semata. Militansi yang dimaksud adalah kesetiaan pada nilai, ketekunan dalam belajar, dan keberanian untuk terus bergerak dalam koridor intelektual yang sehat.
“Tema ini lahir dari kebutuhan zaman. Kita ingin kader PMII tidak hanya hadir secara formal, tetapi hadir secara substansial: berpikir kritis, bergerak taktis, dan setia pada nilai-nilai organisasi,” ujarnya.
Abdillah menambahkan bahwa generasi muda hari ini hidup dalam arus informasi yang sangat cepat dan kerap menyesatkan. Tantangan terbesar bukan hanya menemukan kebenaran, tetapi memilah, menguji, dan mempertanggungjawabkan informasi. Karena itu, kader PMII dituntut untuk adaptif, analitis, dan memiliki kecakapan literasi digital yang kuat.

Balai Desa sebagai Laboratorium Pergerakan
Pilihan Balai Desa Pokaan sebagai lokasi kegiatan bukanlah kebetulan. Dalam beberapa tahun terakhir, desa-desa di Situbondo mulai membuka ruang bagi organisasi mahasiswa untuk berkegiatan. Relasi ini menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa tidak hanya relevan di kampus, tetapi juga dapat hadir sebagai energi perubahan di tingkat lokal.
Selama tiga hari kegiatan, balai desa yang biasanya dipakai untuk rapat rutin atau musyawarah warga, berubah menjadi ruang diskusi, tempat kontemplasi, sekaligus titik temu gagasan. Para peserta ~ yang berasal dari beragam latar belakang akademik ~ mengikuti rangkaian materi yang menjadi fondasi wajib seorang kader PMII.
Materi yang disampaikan meliputi Nilai Dasar Pergerakan (NDP), Islam dengan pendekatan Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat dan inklusif, perspektif kebangsaan, wawasan keindonesiaan, sejarah panjang PMII, hingga pemahaman struktur dan kultur organisasi. Namun esensi pembelajaran tidak hanya terletak pada materi yang disampaikan, melainkan pada dinamika yang dibangun selama kegiatan berlangsung.
Diskusi kelompok, simulasi kepemimpinan, hingga dialog terbuka tentang isu-isu aktual menjadi ajang bagi calon kader untuk menguji argumentasi sekaligus menilai integritas diri mereka. Tidak jarang, sebuah pertanyaan sederhana memicu perdebatan panjang yang membuka kesadaran baru bagi peserta.
Ruang Dialog yang Menghidupkan Kesadaran Sosial
Salah satu sesi yang paling banyak menyedot perhatian peserta adalah pembacaan ikrar kader. Dalam suasana hening, di bawah penerangan balai desa yang sederhana, para peserta berdiri berbaris untuk mengikrarkan kesiapan moral dan intelektual mereka. Ikrar tersebut bukan sekadar bacaan seremonial, tetapi komitmen pribadi untuk berjalan dalam nilai-nilai pergerakan yang telah diwariskan oleh generasi PMII sebelumnya.
Kegiatan ini disambut positif oleh aparatur Pemerintah Desa Pokaan. Mereka menilai kehadiran mahasiswa bukan hanya membawa atmosfer baru, tetapi juga memberi kontribusi terhadap kesadaran sosial pemuda desa.
“Balai desa ini kami buka seluas-luasnya untuk kegiatan positif seperti MAPABA. Semoga kehadiran PMII mampu memberi energi baru bagi generasi muda desa,” ujar salah satu perwakilan pemerintah desa.
Bagi Pemerintah Desa Pokaan, kegiatan seperti ini juga memperkuat sinergi antara dunia akademik dan masyarakat. Kehadiran organisasi mahasiswa dianggap penting untuk membangun pola pikir kritis generasi muda, sekaligus membuka wawasan baru bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang-ruang kecil seperti desa.

Membangun Loyalitas yang Berbasis Nilai
Dalam konteks PMII, loyalitas bukan kesetiaan pada figur atau kelompok tertentu, melainkan kesetiaan terhadap nilai pergerakan. Loyalitas yang dibangun adalah loyalitas berbasis kesadaran, bukan loyalitas yang tumbuh karena tekanan atau ketergantungan sosial.
Oleh karena itu, MAPABA ke–X dirancang tidak hanya mengenalkan struktur organisasi, tetapi juga memperdalam pemahaman peserta tentang peran kader di masyarakat. Para pemateri menekankan bahwa kader PMII harus mampu membaca realitas secara objektif dan mengambil sikap berdasarkan landasan intelektual, bukan sekadar mengikuti arus.
Prosesi Pembaiatan: Gerbang Baru Perjalanan Panjang
MAPABA ke–X ditutup dengan prosesi pembaiatan anggota baru. Dalam suasana malam yang teduh, prosesi pembaiatan menjadi momen paling sakral selama kegiatan berlangsung. Para peserta yang sebelumnya hanya mengenal PMII dari cerita dan literatur, kini resmi menjadi bagian dari organisasi besar yang telah melahirkan banyak tokoh bangsa.
Panitia menegaskan bahwa pembaiatan bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang. Setelah MAPABA, para peserta akan memasuki proses kaderisasi lanjutan seperti PKD, PKL, dan PKN. Jalan yang mereka tempuh setelah pembaiatan jauh lebih menantang karena berkaitan langsung dengan kiprah mereka di kampus maupun masyarakat.
Menuju Kader Transformatif
MAPABA ke–X tidak hanya menghadirkan suasana baru di ruang desa, tetapi juga memberi harapan bahwa generasi muda PMII masih memiliki napas panjang untuk merawat pergerakan. Militansi yang dibangun adalah militansi yang berakar pada kesadaran intelektual. Loyalitas yang dijaga adalah loyalitas terhadap nilai yang diwariskan, bukan loyalitas buta.
Dengan kerangka itulah MAPABA kali ini menjadi simbol proses transformasi: dari mahasiswa biasa menjadi kader pergerakan, dari pencari jati diri menjadi pembawa perubahan. PMII Rayon Konstitusi berharap MAPABA ke–X menjadi momentum yang melahirkan kader-kader transformatif ~ mereka yang siap membaca zaman, merespons perubahan, dan bekerja untuk kemaslahatan masyarakat.
https://Saromben.com













